Memaknai keterhubungan dan proses belajar lintas jaringan merupakan salah satu proses yang dilakukan oleh organisasi dalam jaringan Indonesia Inklusi. Proses “Linking and Learning” ini tentunya memiliki metode yang beragam pada tiap organisasi. Meskipun begitu, esensi utama dari proses ini adalah membangun keterhubungan antar organisasi dengan beragam isu, lintas ketertarikan, dan komunitas pemilik hak yang berbeda.

Linking and Learning menjadi sebuah sarana bagi organisasi dan komunitas pemilik hak untuk dapat menyuarakan kisah dan dapat saling belajar. Ruang untuk saling terhubung ini merupakan sebuah upaya untuk dapat menciptakan ruang yang lebih inklusif dan tidak ada satupun yang ditinggalkan. Oleh karenanya, ini adalah proses yang akan dan harus terus terjadi untuk dapat saling terhubung dan belajar.

Ruang kolaborasi ini memungkinkan berbagai organisasi dalam jaringan Indonesia Inklusi untuk dapat memahami isu-isu lain di luar isu utama yang mereka kerjakan.

“… kami jadi lebih peduli dengan isu-isu disabilitas yang mungkin beririsan dengan kerja-kerja PKBI ke depan.” Fisqiyyatur Rohmah, Project Officer PKBI Jateng.

“Article 33 ini sedang mencoba untuk masuk ke isu hak-hak penyandang disabilitas, dan kemudian justru melalui Indonesia Inklusi ini, kami banyak sekali terhubung dengan jaringan tersebut. Ya misalkan, kawan-kawan Perdik, kemudian Perhimpunan Jiwa Sehat, jadi kami memang mulai melakukan komunikasi mulai belajar dari teman-teman Indonesia Inklusi, dan semua teman-teman atau jaringan tersebut kami dapatkan justru dari Indonesia Inklusi ini.” Agus Pratiwi, Program Manager Article 33.

Meskipun begitu, proses ini juga memiliki tantangannya tersendiri. Proses belajar yang biasanya diadakan tatap muka harus bergeser menjadi daring (online). Perubahan menjadi daring ini membawa tantangan berupa batasan untuk dapat mengenal satu sama lain secara mendalam. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan daring ini memudahkan keterbatasan jarak dan waktu yang dulu dialami organisasi-organisasi untuk dapat bertemu tatap muka.

“Dalam proses online kerja pandemi ini berjalan, kendala jarak dan kendala mobilitas itu menjadi sedikit tereliminasi. Namun memang, interaksi fisik untuk saling mengenal lebih dalam itu menjadi lebih terbatas karena kami hanya bertemu muka dalam layar handphone atau di depan layar monitor, sehingga proses mengenal itu menjadi lebih panjang.” Sholih Muhdlor, GEDSI Officer SAPDA Yogyakarta.

Jaringan Indonesia Inklusi memiliki potensi besar untuk dapat menjadi jaringan organisasi masyarakat sipil yang mampu menghubungkan berbagai ketertarikan dan lintas isu dari organisasi-organisasi di dalam jaringan. Oleh karenanya, Indonesia Inklusi dapat menjadi payung besar untuk ruang-ruang diskusi, belajar, dan kolaborasi bagi berbagai organisasi ini. Terdapat juga harapan untuk kembali dalam proses belajar tatap muka.

“Kita berharap Linking & Learning ini tetap ada dan tetap berjalan terus, tapi secara khusus, lebih baiknya pertemuan fisik, karena kita akan punya banyak waktu untuk melakukan sharing dan belajar.” Deonato Moreira, Staff Program CIS Timor.

Melihat berbagai keinginan dan harapan ini, dapat direfleksikan bahwa keterhubungan ini menjadi salah satu proses penting dalam penguatan kapasitas dan ilmu pengetahuan lintas jaringan. Ini juga membuka ruang kolaborasi bagi organisasi-organisasi ini. Juga menjadi sarana untuk dapat saling mendukung perjuangan masing-masing.