Bahasa Indonesia ID English EN

“Payung Dara”, Respon Pegiat Film terhadap Isu Pubertas dan Kekerasan Seksual

Ditulis Oleh: Ken Penggalih

Film “Payung Dara” menceritakan tentang Dara, siswa Sekolah Menengah Pertama berusia 13 tahun, yang sedang menjalani masa pubertas dan berbagai tantangan yang harus dihadapinya. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Reni Apriliana bersama Puspa Intan Fitriamurti serta diproduseri oleh Fanny Chotimah dan Hanna Humaira. Reni bercerita bahwa ketika duduk di bangku pendidikan menengah pertama, ia tidak mengetahui tentang pelecehan seksual, dan baru setelah dewasa ia menyadari bahwa ternyata banyak kejadian yang ia saksikan saat SMP merupakan bentuk pelecehan seksual. Berangkat dari keresahan pribadi tentang isu kesehatan reproduksi remaja dan pelecehan seksual yang dialami oleh remaja pada masa pubertas, Reni berinisiatif untuk membuat film “Payung Dara” sebagai media kampanye dan edukasi mengenai kesehatan reproduksi remaja serta pelecehan seksual. Bersama Kembang Gula, film “Payung Dara” mendapatkan dukungan dari VOICE Indonesia.

Film pendek yang berdurasi kurang lebih 18 menit ini memakan waktu produksi selama satu tahun. Kembang Gula juga menggandeng berbagai pihak untuk terlibat dalam proses produksi film, mulai dari berdiskusi dengan VOICE Indonesia dalam pengembangan naskah film, hingga bekerja sama dengan PUKAPS (Pusat Kajian Perempuan Solo) untuk mengadakan focus group discussion dengan perwakilan guru dan remaja. Selama satu tahun perjalanan, Kembang Gula mendapatkan berbagai cerita dan temuan yang menarik.

Poster Film “Payung Dara” (Dokumentasi Yayasan Kembang Gula).

Fanny bercerita bahwa karena produksi film “Payung Dara” melibatkan kru dari komunitas lain, Kembang Gula awalnya sedikit was-was akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, ketika lokakarya pencegahan kekerasan seksual pada masa pra-produksi, kru-kru ternyata mendengarkan dengan seksama, dan akhirnya juga belajar tentang berbagai bentuk kekerasan seksual. Selain itu, Kembang Gula menerapkan Standard Operating Prosedur pencegahan kekerasan seksual di lingkungan produksi film, yang dibentuk dengan bantuan dari Tim PUKAPS Solo. Dengan demikian, dapat terwujud ruang produksi film yang aman dan bebas dari kekerasan seksual. Kembang Gula berharap agar praktik pencegahan kekerasan seksual ini dapat menjadi contoh bagi teman-teman filmmaker dalam memproduksi film agar tercipta lingkungan perfilman yang aman.

Reni juga menambahkan bahwa pengembangan naskah dan artistik film mempertimbangkan masukan dan pendapat dari guru-guru dan siswa-siswa dari focus group discussion. Hal ini dilakukan agar film “Payung Dara” dapat diterima dan dicerna dengan mudah karena telah menyesuaikan kebutuhan. Dengan demikian, film “Payung Dara” dapat mencapai tujuannya, yaitu untuk menyebarkan pengetahuan dan membuka diskusi tentang kesehatan reproduksi remaja dan pelecehan seksual.

Proses Produksi Film Payung Dara (Dokumentasi Yayasan Kembang Gula).

Namun, proses produksi film “Payung Dara” tentunya tidak lepas dari berbagai tantangan, terlebih ketika film “Payung Dara” sendiri mengangkat tema yang masih relatif tabu dan jarang diterima oleh masyarakat.

“Responnya positif. Namun, ada yang bilang filmnya untuk murid-murid perempuan saja dulu. Ya, namanya juga sekolah swasta yang agamis. Semoga film ini dapat menjadi pembuka untuk mereka ngobrolin ini,” ucap Fanny, menceritakan tentang pengalaman Kembang Gula dalam mendistribusikan film “Payung Dara” ke sekolah-sekolah.

Untuk pendistribusian film, Kembang gula mengandalkan jaringan komunitas yang sudah terbangun untuk berkolaborasi mengadakan pemutaran film. Selain melalui jaringan, Kembang Gula juga berinisiatif untuk menyebarkan film “Payung Dara” melalui SINEDU, platform untuk film edukasi sebagai media pembelajaran daring. Fanny menekankan bahwa melalui SINEDU, film “Payung Dara” kemudian mendapatkan paparan ke jaringan lain untuk dapat disebarkan sebagai sarana edukasi kesehatan reproduksi seksual dan juga pelecehan seksual di kalangan remaja. 

Mengingat film “Payung Dara” merupakan film pendek yang memang diproduksi untuk kampanye tentang isu yang tabu, yaitu kesehatan reproduksi remaja dan pelecehan seksual, pemutaran film kemudian dibarengi dengan diskusi terbuka bersama para penonton. Dari pemutaran-pemutaran film yang telah dilakukan, “Payung Dara” berhasil menjadi pemantik bagi penonton untuk dapat mengobrolkan keresahan-keresahan mereka.

Screening dan Diskusi Film Payung Dara (Dokumentasi Yayasan Kembang Gula).

“Ketika berdiskusi setelah pemutaran film “Payung Dara,” ada beberapa laki-laki yang speak up bahwa ternyata ketika masih sekolah, banyak yang tidak tahu kalau ada hal-hal yang ternyata adalah bentuk dari pelecehan. Pada saat itu, mereka melihat teman perempuannya marah dan tidak ngomong (tentang pelecehan yang dialami), tetapi tidak mengetahui kalau yang dialami tersebut ternyata termasuk pelecehan seksual,” ujar Fanny.

Meski film “Payung Dara” bukanlah sebuah medium yang dapat mengubah persoalan kesehatan reproduksi remaja dan pelecehan seksual secara sistematis, film ini dapat menjadi permulaan untuk perubahan. Dengan mengangkat tema tersebut, film “Payung Dara” menjadi ruang aman untuk membuka diskusi mengenai isu yang awalnya masih tabu dan jarang disentuh oleh masyarakat. Dari sini, film “Payung Dara” kemudian dapat mengajak penonton untuk melihat realita dan permasalahan di isu kesehatan reproduksi remaja dan pelecehan seksual. Harapannya, penonton dapat memiliki inisiatif perubahan yang dapat dimulai dari diri sendiri, juga menyebarkan pengetahuan yang telah didapat kepada lingkungan sekitarnya.

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya