Bahasa Indonesia ID English EN

Kelompok Belajar Ketahanan Ekonomi: Belajar dari satu sama lain

Dampak pandemi terhadap kerja komunitas akar rumput memang tidak kecil. Terhambatnya keberlanjutan ekonomi menjadi salah satu tantangan yang dihadapi oleh berbagai organisasi. Dengan segala aktivitas yang harus diselenggarakan secara daring dan kondisi ekonomi masyarakat secara keseluruhan yang menurun, strategi untuk adaptasi dalam pengelolaan ekonomi organisasi menjadi genting. 

Berdasarkan dari kesadaran ini, terbentuk Kelompok Belajar Ketahanan Ekonomi yang beranggotakan beberapa organisasi keluarga Indonesia Inklusi di bawah Voice Indonesia. Sejauh ini, sudah terjalin tiga pertemuan virtual (8 Juli, 12 Agustus, dan 9 September 2021) pada tiga bulan terakhir, di mana pertukaran cerita dan pengalaman terkait kondisi ekonomi organisasi terjadi. 

Dalam pertemuan pertama, para anggota berkenalan lebih jauh dengan satu sama lain dan mengumpulkan ide-ide serta minat terkait ketahanan ekonomi yang bisa dipelajari bersama. Pertemuan kedua ditemani oleh narasumber yang bercerita mengenai dasar-dasar ketahanan ekonomi, sehingga bisa terjadi pertukaran pengalaman lebih jauh terkait berbagai tantangan yang dialami. Sementara itu, pertemuan ketiga mewadahi diskusi terarah untuk praktik pengelolaan dana organisasi masing-masing peserta. Diskusi ini memfasilitasi pertukaran strategi dan mekanisme pengelolaan dana. 

Menurut Jihan, salah satu anggota Kelompok Belajar yang mewakili YIFoS (Youth Interfaith Forum on Sexuality) Indonesia, sepak terjang kawan-kawan menjadi “campur aduk karena pandemi.” Dalam kerja-kerjanya dengan pemuda lintas iman dan seksualitas, YIFoS beraspirasi untuk menjadi mandiri dan tidak bergantung pada donor. Teman-teman dari ragam identitas juga lebih nyaman berkegiatan bersama jika kegiatan berlangsung secara organik dan berbasis kebutuhan komunitas.

Cerita Yustin, yang aktif dalam Serikat Perempuan Independen (SPI) Labuhanbatu, memperkaya pemaparan Jihan mengenai kemandirian organisasi. “Karena kita tinggal di pulau kecil, kegiatan kami sangat bergantung pada donor. Kelanjutan dari kerja organisasi masih sangat sulit. Kalau tidak ada donor, capaian dan targetnya tidak bisa setinggi biasanya,” tutur Yustin.

Nyatanya, aspirasi untuk bertahan secara mandiri juga diperjuangkan oleh anggota lain dari kelompok belajar ini. Dari perbincangan yang terjadi, para anggota sepakat bahwa program-program hibah yang menjadi sumber pendapatan kebanyakan organisasi nirlaba memang membuat keberlanjutan ekonomi tidak pasti karena cenderung berjangka pendek. Selain itu, ketika komunitas dengan sumber daya terbatas menaruh perhatian penuh pada program tertentu, alternatif sumber pendapatan non-hibah cenderung menjadi terabaikan. 

Obrolan yang terjalin dalam kelompok belajar Ketahanan Ekonomi menunjukkan bahwa upaya alternatif dalam sumber pendapatan komunitas penuh dengan jatuh bangun. Harti, pengurus Yayasan Rifka Annisa yang bergabung pada salah satu pertemuan sebagai narasumber, menyampaikan bahwa tantangan terbesar adalah bagaimana pengelolaan upaya pendapatan dana non-hibah dilaksanakan dengan mentalitas sumber daya manusia yang cenderung tidak familiar dengan kewirausahaan. Dari pengalaman Harti dalam sepak terjang kewirausahaan Rifka Annisa dan beragam aktor dalam sosialisasi pemberdayaan ekonomi yang ia tekuni, kelebihan utama para pengurus komunitas memang pada isu sosial yang diperjuangkan. Urusan mencari uang, sementara itu, adalah topik berbeda. 

Walau berbagi aspirasi, kondisi lapangan yang dihadapi setiap komunitas sangat beragam. Kelompok belajar ini menjadi titik temu di mana para anggota bisa mengetahui keberagaman situasi perjuangan setiap komunitas–serta keberagaman resolusi dalam praktik ekonomi. 

Ketika beberapa peserta belajar bercerita tentang upaya untuk menjual merchandise dan menggalang dana, misalnya, Jasardi dari AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) Sumbawa bercerita tentang upaya memberdayakan perempuan adat dalam kedaulatan pangan. Lahan adat dikelola oleh kelompok perempuan adat untuk ditanami sayuran dan tumbuhan, sehingga bisa memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa terlalu bergantung pada pihak eksternal.

Terdapat juga isu lainnya, seperti persoalan pembukuan dan perencanaan dana organisasi yang membutuhkan perhatian khusus. Dalam pengalaman Siti mengurus Difabel Blora Mustika (DBM) yang memperjuangkan pemenuhan hak orang-orang dengan disabilitas, salah satu tantangan yang dihadapi adalah dalam mempelajari pencatatan laporan keuangan. Kegiatan wirausaha DBM yang menawarkan produk yang dibuat bersama dengan anggota dampingannya, seperti batik, mengharuskan pembukuan yang lebih komprehensif. 

Meski keberlanjutan ekonomi merupakan suatu yang begitu genting, pertukaran cerita dan pengetahuan yang terjadi dalam kelompok belajar Ketahanan Ekonomi menunjukkan bahwa setiap komunitas tidak sedang berjuang sendiri. Halang rintang ketahanan ekonomi yang dihadapi memang beragam, namun tidak dihadapi sendiri. Ada pilihan untuk belajar dari satu sama lain dan bergandengan tangan dalam berjalan ke depan, khususnya dalam masa sulit pandemi. 

Ke depannya, anggota kelompok belajar Ketahanan Ekonomi akan mempelajari kewirausahaan sosial dan kembali mendalami pengelolaan dana organisasi. Sesi belajar untuk bulan Oktober sedang dipersiapkan. “Harapannya bisa belajar banyak dan mengadopsi pengetahuan ini,” ungkap Umi, anggota kelompok belajar dari Yayasan Annisa Swasti.

Ditulis oleh Nabila Auliani Ruray, Tim Komunikasi Linking and Learning Indonesia

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya