Bahasa Indonesia ID English EN

Kolektif Videoge: Membaca Kampung Melalui Dokumenter

Sebagai komunitas yang memposisikan dirinya sebagai “laboratorium kreativitas” dalam reproduksi dan pengarsipan pengetahuan lokal, Kolektif Videoge mewujudkan proses belajar mereka dengan cara yang unik: produksi audio-visual.

Pengerjaan micro-documentary atau film dokumenter singkat tengah Videoge geluti sebagai respons atas kebutuhan menghadirkan ruang bagi orang muda untuk mempelajari realita sosial di lingkungan sekitar. Dengan kata lain, bukanlah hasil dari produksi yang menjadi fokus utama; melainkan proses pengerjaan itu sendiri yang mewadahi segala proses partisipatif: berkenalan, penelitian, diskusi panjang, hingga refleksi di dalamnya. Ini diprakarsai oleh kru Videoge dalam serangkaian kegiatan bertajuk “Merekam Kampung Lama” hadir dengan tujuan merekam dinamika pengetahuan warga dan kotanya. 

Jika ditarik ke belakang, kebutuhan untuk menghadirkan wadah belajar bagi orang muda sendiri muncul untuk menanggapi realita sosial di sekitar Labuan Bajo–domisili Kolektif Videoge–yang menghadapi banyak perubahan. Labuan Bajo menyaksikan perkembangan pesat dalam kehidupan sehari-hari, terlebih dengan dukungan geliat sektor pariwisata yang mempengaruhi nyaris setiap spektrum kehidupan masyarakat.

Kolektif Videoge sendiri merupakan kelompok belajar, seni, dan multimedia yang mandiri. Ia bergiat melalui praktik produksi dan distribusi pengetahuan berupa diskusi, riset dan kearsipan, pagelaran seni, pameran, bioskop alternatif, hingga serial micro-documenter, buletin, katalog, buku, webzine, dan media baru lainnya. Pendekatan praktik kreatif dalam pengertian seluas-luasnya dipercayai sebagai wadah pengembangan diri dan komunitas. 

Semangat ini yang kemudian dibawa oleh Kolektif Videoge ke Kampung Katong–sebuah inisiatif kolektif oleh konsorsium beranggotakan RMI, Lakoat.Kujawas, SimpaSio Institute, dan Kolektif Videoge. Serangkaian kegiatan Merekam Kampung Lama tergabung di bawah konsorsium Kampung Katong yang secara keseluruhan mengemban muatan dekolonisasi di kampung masing-masing.

Lokakarya Micro-documentary

Sumber foto: Dokumentasi Kolektif Videoge

Perjalanan untuk mempelajari kampung dimulai dengan lokakarya video micro-documentary (microdoc). Melalui metode open recruitment, terkumpul peserta kelas yang terdiri dari anak sekolah menengah keatas, sarjana muda, dan pekerja muda di bidang pariwisata. Sebagian besar memiliki minat sebagai kameramen dan sisanya memiliki ketertarikan dalam menyunting video.

Dalam pertemuan perdana lokakarya microdoc, peserta kelas lokakarya berkenalan dengan kru Videoge. Kru Videoge lantas berbagi cerita singkat tentang perjalanan belajar Kolektif Videoge dan inisiatif Kampung Katong di Labuan Bajo yang diterjemahkan melalui giat Merekam Kampung Lama. Lokakarya yang digelar selama tiga bulan ini merupakan bagian dari tahap awal untuk membangun tim produksi serial dokumenter pendek. 

Sumber foto: Dokumentasi Kolektif Videoge

Seperti format dokumenter yang lebih panjang, dokumenter mikro bercerita tentang cerita non-fiksi. Microdoc juga bisa disebut sebagai film pendek untuk menyampaikan pesan atau cerita dalam waktu yang terbatas dan biasanya digunakan juga untuk menampilkan sisi human condition–yakni berbagi cerita yang menampilkan berbagai subjek yang melakukan rutinitas tindakan manusia yang tidak biasa atau menarik. Dengan potensi dalam menelisik realita sosial, harapnya program Videoge ini mampu merekam dinamika pengetahuan yang terjadi dalam keseharian warga, kisah inspiratif, fenomena, kuliner, lingkungan, asal-usul, kesenian dan budaya atau segala sesuatu yang berkembang di dalamnya.

Lokakarya Microdoc sendiri terbagi ke dalam tiga kelas; yakni kelas wacana, praktik, dan menyimak. Ketiganya mengutamakan praktik yang kemudian diiringi diskusi. Proses-proses yang diobrolkan dalam kelas mencakupi temuan riset, membuat logline (paragraf intisari cerita), pembuatan naskah/skenario dokumenter, mendaftar kebutuhan gambar (shotlist) dan pengambilan gambarnya, editing, pembuatan poster film, hingga rencana pemutarannya kelak. 

Kelas Wacana diisi dengan materi pembelajaran tentang pengenalan sejarah singkat dokumenter dan pemilihan ide cerita yang kontekstual dengan hal-hal kecil di sekitar kita. Ini merupakan bekal mendasar untuk kegiatan Merekam Kampung Lama yang terdiri dari Kampung Air, Kampung Tengah, Kampung Cempa, Kampung Ujung, Kampung Baru dan sekitar permukiman di kelurahan Labuan Bajo. Sementara, Kelas Praktik meliputi latihan riset dan olah data untuk menemukan sudut pandang cerita yang mengupayakan kedalaman dan kekayaan informasi. 

Sumber foto: Dokumentasi Kolektif Videoge

Latihan membangun imajinasi, membuat logline, hingga pembelajaran teknis pengambilan gambar diupayakan melalui ‘Kelas Menyimak’ setiap akhir pekan sepanjang proses produksi. Gambar di atas diambil pada Kelas Menyimak perdana, di mana peserta kelas diajak untuk menuliskan satu paragraf inti dari film yang ditonton untuk membuka dialog lebih lanjut setelahnya.

Merekam Kampung Air: Mata Air, Ruang, Sampah, dan Nelayan Pensiun

Sumber foto: Dokumentasi Kolektif Videoge

“Kampung Air ada karena ada airnya,” kata Muhammad Taher, salah satu Ketua RT setempat yang dikenal dengan sapaan Ince Taher. Ince Taher adalah salah satu warga Kampung Air yang ditemui kelompok satu yang memilih topik mata air di Kampung Air. Dari beberapa kampung, Kampung Air dipilih oleh peserta lokakarya–yang sudah dibagi ke dalam empat kelompok–sebagai lokasi yang ingin ditelusuri dan direkam. 

Dahulu, Kampung Air masih disebut dengan julukan Bitta Boe yang mewakili mata air tawar yang muncul di tepi laut Kelurahan Labuan Bajo tersebut. Istilah dalam bahasa Bajo tersebut terasa begitu berarti untuk ditelusuri lebih jauh melalui penggalian ragam cerita warga. 

Sumber foto: Dokumentasi Kolektif Videoge

Kegiatan observasi dan latihan riset microdoc dimulai pada 18 Januari 2022. Kelompok satu berkunjung ke beberapa rumah warga untuk mendengar cerita orang-orang tua mengenai pengalaman menggunakan air di Kampung Air. Narasumber yang ditemui awalnya dilakukan secara acak, sebelum kemudian dilakukan secara lebih terencana berdasarkan rekomendasi-rekomendasi nama warga setempat yang mempunyai cerita untuk dibagi. 

Dengan fokus utama ‘mata air’, kelompok satu menelusuri beberapa cerita menarik yang perlahan-lahan disusun kepingannya. Cerita-cerita tersebut mencakupi keberadaan mata air tawar yang ternyata berpengaruh besar terhadap keseharian kampung jika dibandingkan dengan kampung-kampung pesisir terdekat yang memiliki kadar air asin lebih tinggi, keberadaan muara antara Kampung Air dan Kampung Baru, ingatan warga mengenai sumur-sumur, hingga keseharian dua orang pekerja mesin bor air. 

Sumber foto: Dokumentasi Kolektif Videoge

Salah satu narasumber yang dikunjungi adalah Nenek Siti. Nenek Siti sedang menjaga kiosnya kala kelompok satu mengajaknya mengobrol. Ia adalah salah satu warga yang menggunakan mesin bor air. Sebagian besar penggunaan air bagi warga di kampung ini menggunakan tenaga mesin bor air untuk menarik air dari bawah tanah. 

Sumber foto: Dokumentasi Kolektif Videoge

Sementara itu, kelompok dua memilih topik tentang ‘ruang’ di Kampung Air. Penelusuran mereka dimulai dengan mencermati setidaknya dua puluh lorong dan/atau gang setempat. Lorong dan/atau gang menawarkan cerita tersendiri karena menyaksikan kedekatan dan aktivitas warga secara intim. Mulanya, ide ini terpantik setelah peserta menyaksikan gang yang menjadi tempat ibu-ibu bercengkrama, berjualan, atau sekadar duduk santai.

Selain menawarkan nuansa yang beragam, setiap ruang sempit tersebut ternyata mampu menghadirkan suara dialek yang berbeda berdasarkan penghuninya. Kampung Air mulanya ditinggali oleh warga berketurunan Bajo, Bugis, Selayar, Bima, dan Ende. Namun, kehadiran imigran dari Manggarai, Maumere, Bajawa, hingga Kupang dengan tujuan sekolah dan bekerja belakangan turut memperkaya demografi. Perantau ini umumnya tinggal di kos-kosan yang berada di kolong rumah.

Lebih jauh, ‘ruang’ juga ditelusuri melalui tata ruang. Kelompok dua belajar mengenai hal ini melalui obrolan dengan salah satu warga mengenai rancangan tata ruang kampung di masa lalu. Kampung Air yang dulunya dipenuhi kebun kinca (kawista), mangga, sukun, dan kelapa begitu kontras dengan kondisi kini yang penuh dengan permukiman. 

Sumber foto: Dokumentasi Kolektif Videoge

Kelompok tiga memilih topik yang tak kalah menarik, yakni ‘sampah’. Mereka meyakini bahwa setiap sampah memiliki cerita. Terekam di atas merupakan latihan riset perdana kelompok tiga, di mana mereka bertemu dengan salah satu Ketua RT Ince Taher.

Sumber foto: Dokumentasi Kolektif Videoge

Untuk menelusuri sampah, kelompok tiga menjajaki pemukiman Kampung Air dengan berjalan kaki. Pasar Lama, salah satu pasar setempat yang tidak beroperasi lagi, menjadi salah satu titik masuk ke area perkampungan yang dipelajari. Pendataan awal yang krusial bagi kelompok ini adalah pemetaan titik-titik tong sampah sekitar. 

Sumber foto: Dokumentasi Kolektif Videoge

Sementara itu, kelompok empat terpanggil untuk mendalami pekerjaan yang dilakoni warga Kampung Air. Penelusuran singkat mereka untuk menggali cerita dan pengalaman bekerja warga Kampung Air membawa mereka menemukan kisah seorang nelayan pensiun yang kemudian mengerucuti topik microdoc kelompok ini terhadap isu ‘nelayan pensiun’. 

Pada gambar di atas, sekawanan bapak-bapak Kampung Air ditemui untuk penelusuran pengalaman menjadi nelayan bagang atau ikan laut. 

Sumber foto: Dokumentasi Kolektif Videoge

Tim ini juga membuka obrolan bersama bapak-bapak keturunan Bugis yang hampir setiap hari dapat ditemui duduk bersantai di Jalan Reklamasi Pantai Kampung Air. 

Kini, beberapa bulan setelah foto-foto di atas diambil, lokakarya micro-documentary Merekam Kampung Lama sudah memasuki tahap terakhir. Walau dibagi ke dalam empat kelompok selama latihan observasi dan riset, semua peserta terlibat dalam produksi empat karya yang dikerjakan secara keroyokan dan bergilir–dari satu judul ke judul lainnya. Pengambilan gambar terakhir dilakukan pada 24 Maret 2022.

Empat karya microdoc berjudul “Mata Air di Kampung Air”, “Permukiman Empat Generasi”, “Sampah, Pak RT, dan Anak Pengajian”, dan “Nelayan Pensiun”—yang juga merefleksikan perubahan pengetahuan serta tatanan sosial setempat—kini tengah memasuki tahap penyuntingan akhir. Para orang muda yang terlibat juga tengah menyusun catatan proses yang mencakupi segala proses produksi. Rentetan cuplikan proses bisa disimak melalui akun Instagram Kolektif Videoge (@maigezine). 

Olahan kolase dari Dokumentasi Kolektif Videoge (Muhammad Rizki/Linking and Learning Indonesia)

Ke depannya, sepak terjang Kampung Katong akan diperkaya dengan kegiatan-kegiatan menarik lainnya. Simak berita terbaru dan kegiatan dari tiap komunitas di akun Instagram RMI (@rmi.id), Lakoat.Kujawas (@lakoat.kujawas), SimpaSio Institute (@simpasioinstitute), Kolektif Videoge (@maigezine),  dan Kampung Katong/Being and Becoming Indigenous (@bnbindigenous). 

Ditulis oleh tim Kolektif Videoge dan Nabila Auliani Ruray dari Tim Komunikasi Linking and Learning Indonesia.

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

Buletin Indonesia Inklusi

Menulis dan bercerita merupakan salah satu metode yang sangat menarik untuk menyampaikan ide dan gagasan. Dari sebuah tulisan, kita dapat mengetahui keberhasilan atau kegagalan dalam

Baca Selengkapnya »