Bahasa Indonesia ID English EN

Gambar biji kopi bertuliskan Bantaeng Coffee Arabika tersusun rapi dalam display di laman www.waroeng33.com. Sekilas ia tampak menggoda dan berbentuk laiknya produk kopi pada umumnya.

Namun jangan salah, sedikit menyelaminya lebih dalam, kita akan mendapati bahwa itu adalah salah satu produk yang dihasilkan Komunitas Masyarakat Hutan di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Ya, atas inisiasi dari Article 33 dalam menggalakkan program marketplace, produk-produk unggulan dari komunitas masyarakat hutan maupun masyarakat marginal memiliki peluang besar untuk dikenal dan bisa dinikmati masyarakat luas.

Agus Pratiwi, Manajer Program Article 33, mengisahkan awal mula pendirian program itu. Katanya,  dalam perjalanan program Project Inclusive Customary Forest Financing, khususnya pada sesi intervensi (pelatihan) di komunitas hutan, tercetus keluh kesah dari masyarakat.

Mereka bilang di dalam komunitas adat dan hutan desa sebenarnya memiliki beragam produk yang menarik. Di antaranya kopi, madu, hingga menyasar ekowisata. Namun, keanekaragaman produk itu urung dikenal luas, karena sulitnya akses untuk pemasaran serta minimnya skill dalam bisnis dan packing produk.

Menyiasati hal itu, tercetuslah ide untuk memasarkan produk masyarakat melalui toko online. “Namun di marketplace yang umum,  tidak ada semacam afirmasi untuk kelompok-kelompok seperti masyarakat adat atau masyarakat marginal,” kata Tiwi.

Akibatnya, peluang masyarakat marginal dalam mengenalkan produknya bisa “tenggelam” dan kalah bersaing dengan vendor lainnya. Merespon hal itu, Article 33 memutuskan untuk membuat marketplace sendiri yang bernama www.waroeng33.com.

Sejauh ini beberapa Komunitas Masyarakat Hutan telah mulai bergabung. Di antaranya Komunitas Hutan Desa Campaga dan Komunitas Hutan Desa Labbo (Bantaeng), serta Komunitas Hutan Adat Marena dan Komunitas Hutan Adat Orong (Enrekang).

Penuh Tantangan

Kendati menyiratkan harapan besar, perjalanan dalam mengintegrasikan produk masyarakat ke dalam marketplace www.waroeng33.com menyisakan tantangan yang cukup dinamis.

Hal itu terutama dari adanya komunitas yang belum sepenuhnya percaya diri. Sebab mereka merasa masih perlu belajar memperkuat kemampuan mengoperasikan sistem online, mengemas produk yang menarik, memperoleh lingkungan yang bersahabat, sampai menunjang skill berbisnis dengan baik.

Di samping itu, tidak meratanya infrastruktur internet juga menjadi soal. Sebab itu memicu hambatan dalam proses penjualan melalui www.waroeng33.com.

Tak hanya itu, tantangan juga muncul dari internal. Salah satunya kemampuan untuk mengembangkan marketplace, pengintegrasian pembayaran via bank, hingga pengembangan website.

“Karena kami kan awalnya juga tidak paham soal platform marketplace seperti ini. Akhirnya kami coba belajar mulai dari web development sampai sistem bank-nya,” tambah Tiwi.

Gandeng Kalangan Inklusi

Upaya dalam menggaungkan kesadaran terkait inklusi sosial, terus digalakkan melalui marketplace waroeng33.com. Di antaranya berbentuk ajakan kalangan komunitas inklusi untuk turut memamerkan produknya.

“Kami juga sudah mengundang beberapa teman di grup IndonesiaInklusi, tapi waktu saya tawarkan, website dan sistem banknya belum terbangun. Nanti kami coba undang lagi,” kata Tiwi.

Untuk saat ini pelan-pelan kekurangan pada pengembangan website telah dibenahi. Ke depan, tak menampik kemungkinan, akan ada banyak kalangan marginal dan inklusi yang diperkenankan bergabung.

Tiwi menambahkan, untuk komunitas yang berniat bergabung akan dilakukan seleksi dari tim melalui survey di form. Itu terkait produk dan dampaknya bagi inklusi sosial.

Selain itu, ia menekankan bahwa komunitas yang akan bergabung harus sejalan dengan tujuan besar project ini dari awal. Namun juga tak menampik kemungkinan dapat berkembang ke kelompok di luar project, asalkan kegiatan bisnisnya sesuai dengan tujuan inklusi sosial kelompok marginal.

Dengan adanya gagasan tersebut, diharapkan akan terbentuk kelompok marginal yang tak hanya berdaya secara ekonomi, namun memiiki dampak inklusi sosial.

“Artinya semakin banyak orang, melalui pembelian, yang menjadi tahu bahwa kelompok-kelompok marginal bisa punya produk yang berkualitas dan memandangnya sebagai kelompok yang berdaya,” pungkas Tiwi.

Ditulis oleh Ahmad Farid, Tim Komunikasi Linking and Learning Indonesia

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

Remotivi – Indeks Media Inklusif

Indeks Media Inklusif (IMI) adalah rapor media dalam aspek inklusivitas. Inklusivitas merupakan prinsip yang menekankan kesetaraan akses dan peluang serta pelenyapan diskriminasi dan intoleransi yang

Baca Selengkapnya »