Tentang penulis

Sapta Widi Wusana, lahir dan besar di Gunungkidul. Menikmati peran sebagai peneliti sosial independen semenjak tahun 2010 dalam beberapa kerjasama dengan universitas, NGO, lembaga pemerintah, juga bersama komunitas-komunitas seni & budaya di Yogyakarta. Semenjak tahun 2019 bergabung bersama ERAT Indonesia, sebuah lembaga di Kota Yogyakarta yang memfokuskan perhatian terhadap hak lansia & penguatan komunitas lansia Indonesia.

Pukul 3 pagi, saat ayam jantan-pun masih pulas, mbah Mini sudah menyusuri jalan kampung menuju pasar Wonosari, Gunungkidul. Tanpa sepeda, tanpa teman, tanpa sang-pengantar, mbah Mini mantap menapaki jalan, berbekal tenggok bambu (keranjang) di punggung, tas anyaman plastik di tangan, dan tak lupa masker kain. Meski dingin pagi menusuk tulang, rasa sumringah menghangatkan mbah Mini. Simbah lega bisa bekerja lagi setelah lebih sebulan (terpaksa) libur dan menggantungkan hidup pada bantuan tunai.

Datangnya pandemi Covid-19, tidak hanya membuat mbah Mini, yang berusia lebih dari 70 tahun, sebagai berisiko tinggi. Namun juga memisahkan mbah Mini dari aktivitas dan penghidupan yang sudah lebih dari 40 tahun dijalaninya, yakni berjualan. Dalam hidupnya yang sendiri, datangnya pandemi kali ini seolah menghilangkan sebagian dunia yang dicintai mbah Mini, perjumpaan-perjumpaan dengan berbagai orang.

Kin, perlahan mbah Mini bisa kembali menyalakan api penghidupannya sebagai pedagang sayur keliling di selatan Wonosari.

Kulo niku urip piyambak, nggeh kedah pados panguripan piyambak… nggeh ngaten niki, mpun saking tahun pitung dasa sanga kulo mpun mande janganan… nggeh turut kampung.”

(Saya itu hidup sendiri, ya harus mencari penghidupan sendiri.., ya seperti ini, sudah dari tahun 1979 saya berjualan sayur dari kampung ke kampung.) Tutur mbah Mini.

Datangnya New Normal, menjadi titik baru bagi mbah Mini, untuk tidak menyerah dan kembali menggenggam semangat menjalani kehidupan. Saat ditanya tentang bagaimana menghadapi era perubahan atau New Normal, dengan tersenyum mbah Mini berkata

“Ya kudu obah, ten pasar malih, dagang malih, mubeng malih ngagem masker.”

(Ya harus bergerak, ke pasar lagi, dagang lagi, keliling lagi memakai masker)

Ya “obah”, bergerak dan berupaya kembali, terlebih bagi lansia perempuan soliter seperti mbah Mini dan ribuan lansia lain, bergerak dan berupaya adalah hal kunci supaya lansia bisa meraih kembali kemandirian dan juga kebahagiaan. Dan tentunya dengan memerhatikan situasi kini yang belum juga lepas dari bahaya Covid-19, “Terus Obah” merupakan representasi atas pentingnya Aktivitas, Perlindungan, pemenuhan Kebutuhan, dan penyediaan Dukungan bagi lansia.

Aktivitas, tidak hanya fisik (olah raga & tubuh), namun juga olah pikir, memberikan ruang dan mengajak lansia untuk terlibat, tetap terhubung dan juga berperan dalam dunia yang semakin kekinian. Tak kalah penting juga adalah olah rasa, salah satunya dengan memberikan kembali ruang ekspresi bagi lansia, untuk menyatakan apa-apa yang dirasakannya juga menyatakan dirinya dalam keterbukaan, dan setidaknya menemukan hal-hal yang bisa membuat lansia (bahkan lansia soliter) untuk tersenyum dan merasakan bahagia. Aktivitas New Normal tentunya mensyaratkan adanya Pelindung, baik fisik seperti masker kain yang dikenakan mbah Mini dan piranti kesehatan lain demi menepis resiko terpapar Covid-19.

Kebutuhan, lansia memiliki serangkaian kebutuhan yang pastinya kita sadari bersama, seperti sandang, pangan dan papan yang layak. Namun demikian, Obah-nya lansia, dalam semangat meraih diri yang medeka dan berdaya, juga membutuhkan adanya informasi, kasih sayang dan rasa aman. Bagi lansia perempuan soliter seperti mbah Mini, ini tentu bukan hal mudah sebab tiadanya anggota keluarga lain untuk membantu dan mendukung lansia menghadapi situasi dan perubahan-perubahan. Terkait situasi kekinian, mbah Mini berpendapat

Jaman saiki wis beda nak, akeh sik simbah ra mudheng, sing penting tetep obah, tetep ngupadi.”

(Jaman sekarang sudah berbeda, banyak yang saya tidak pahami lagi, yang penting saya tetap obah, tetap berupaya).

Hadirnya komunitas sangatlah penting bagi para lansia soliter seperti mbah Mini, sebagai ruang kebersamaan lansia, mendapatkan kembali rasa sayang dalam pertemanan, dan juga memfasilitasi ruang pemenuhan kebutuhan lain, yakni interaksi, otonomi dan juga kompetensi. Pertemuan-pertemuan lansia dalam komunitas SMILE bisa menjadi awal jalinan semangat “Terus Obah” lansia dalam gerak bersama/kolektif. Supaya para lansia terhubung satu sama lain, bisa berbincang bersama, merencanakan aktivitas bersama, dan juga membangun ruang ekspresi lansia yang aman dan terbuka.

Tentu, gerak lansia sangat membutuhkan Dukungan dari semua pihak, dan terutama anak muda. Sebuah peran besar bagi anak muda untuk mendukung lansia adalah dengan menjembatani jeda antargenerasimisalnya dengan mengenalkan dan mengajak lansia untuk menikmati dan menjelajahi teknologi dengan cara yang menyenangkan dan bermanfaat. Kami mengalami sendiri dalam proses berkomunitas SMILE, berbincang dengan sesama lansia dengan panggilan video, atau mendokumentasikan kisah untuk ditayangkan di kanal daring ternyata menjadi hal yang sangat terasa baru namun menyenangkan bagi para lansia. Lansia tentunya berhak untuk menikmati perkembangan teknologi terkini, karena mereka juga membutuhkannya supaya tetap bisa merangkai jalinan erat dalam dunia yang berputar kencang.

Mari dukung lansia untuk Terus Obah dengan aman, nyaman dan bahagia bersama komunitas lansia.