Tahukah kamu, setiap tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional. Hasil dari Vienna International Plan of Action on Ageing atau kerap disebut Vienna Plan pada tahun 1982. Sampai akhirnya Sidang Umum PBB tanggal 14 Desember 1990 menetapkan tanggal 1 Oktober sebagai Hari Lanjut Usia Internasional. Sejak saat itu negara anggota PBB memperingati tanggal tersebut sebagai Hari Lansia. Walaupun beberapa negara memilih menetapkan tanggalnya sendiri, seperti Indonesia yang memilih Hari Lansia Nasional jatuh pada 29 Mei.

Tentu tahun ini perayaan Hari Lansia akan sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pandemi corona sampai tulisan ini dibuat masih terus menghantui seantero jagat. Temuan kasus naik turun silih berganti dari satu negara ke negara lain. Bahkan konsep gelombang kedua mulai diperkenalkan, sebagai gambaran kembali naiknya jumlah pasien terjangkit di masing-masing negara.

Lalu apakah kondisi ini akan menghambat peringatan hari lansia? Tentu tidak, masih ada banyak hal yang perlu dilakukan, bahkan ditengah kepungan COVID-19. Sekurang-kurangnya adalah menjadi penanda dan pengingat bahwa setiap orang berhak meraih martabatnya, dan tak boleh ditinggalkan, terlebih yang berada dalam kondisi rawan, seperti halnya lansia di tengah pandemi.

Bagaimana di Indonesia, negara yang bertabur kegiatan seremonial? Sialnya, jangankan aksi nyata, pembaharuan dasar hukum bagi lansia yang termuat dalam Undang Undang saja tidak ada kejelasannya di negara ini. Tapi apakah kita harus berdiam diri, berharap negara akan berubah seketika dan memperhatikan lansia? Tidak.

Sebagai bagian dari masyarakat sipil kita harus bergerak, baik sendiri ataupun berkelompok. Kesejahteraan lansia kini adalah cerminan diri kita di hari mendatang. Lagian apa yang lebih membahagiakan dari melihat para lansia yang masih aktif berkegiatan? Terus menikmati hidup dengan penuh senyuman dan semangat. Memberi gambaran kepada kita generasi di bawahnya untuk terus optimis dalam menjalani kehidupan.

ERAT Indonesia, suatu kumpulan anak muda yang memberi perhatian kepada salah satu kelompok rentan ini. Mencoba memperjuangkan kembali hak-hak lansia, melalui pendekatan secara personal ataupun kelompok. Tidak muluk-muluk, cukup memberi dampingan dan penguatan kapasitas serta kapabilitas bagi kelompok dampingan. Skala perjuangan memang tidak masif, tapi perlahan dan pasti mulai menggalang kesadaran agar lansia bisa berdaya.

Pun dengan kondisi pandemi, bukan penghalang bagi kawan-kawan ERAT Indonesia. Tantangan tentu ada, apalagi dengan target grup pemberdayaan adalah para lansia. Pandemi kali ini mengharuskan kita untuk menjaga jarak, tidak membuat kerumunan, serta meminimalisir kontak. Solusinya adalah pemanfaatan media teknologi informasi untuk menggantikan peran-peran tatap muka langsung. Agak ribet memang diawal, tapi lambat laun semakin terbiasa. Apalagi bagi generasi muda dan dewasa yang memang sudah familiar dengan perdaringan.

Bagaimana dengan lansia? Kedekatan mereka dengan dunia teknologi informasi tentu dua tiga langkah di belakang generasi lain. Tapi tentunya itu bukan hambatan bagi kawan-kawan ERAT Indonesia. Beragam cara dilakukan termasuk dengan membuat kampanye Terus Obah. Sebuah gerakan representasi atas pentingnya aktivitas, perlindungan, pemenuhan kebutuhan, dan penyediaan dukungan bagi lansia. Kampanye tersebut dilakukan di empat kelompok lansia dampingan serta beberapa lansia soliter.

Lansia menjadi salah satu kelompok usia yang rawan terkena paparan COVID-19. Maka perlu adanya informasi terkait pandemi ini yang bisa diakses lansia. Kawan-kawan ERAT Indonesia mencoba memformulasikan itu dengan membuat infografis dan video yang ditujukan pada lansia. Seperti informasi tentang apa itu covid-19, bagaimana cara mencegahnya, bagaimana mengisi waktu di kala pandemi, serta bagaimana kita sebagai orang yang hidup di sekitar lansia memberi dukungan ketika pandemi melanda. Bahkan di beberapa video menggunakan pendekatan narasi Bahasa Jawa agar lebih mudah diterima lansia di sekitaran Provinsi D.I. Yogyakarta

Tidak hanya menjadi target pemberian informasi, tapi lansia juga diharapkan bisa beraktifitas di kala pandemi. ERAT Indonesia menggandeng beberapa anak muda Jogja untuk memberikan pelatihan fotografi dan videografi kepada para lansia, terkhusus lansia waria. Bermodalkan gawai yang biasa mereka pakai sehari-hari, mereka bisa merangkai kisahnya dalam balutan foto ataupun video. Karena siapa tahu, setiap potongan kehidupan lansia ini bisa memberi pelajaran hidup bagi orang lain.

Gerakan turun langsung ke lapangan juga tetap dilakukan kawan-kawan ERAT Indonesia, tentunya sesuai protokol kesehatan. Fokusnya adalah penjangkauan terhadap lansia soliter. Memberi dukungan kepada mereka agar hidup layak dan membukakan akses informasi atas hak-hak dasar yang seharusnya mereka peroleh. Terlebih sektor kesehatan di kala pandemi.

Demi menunjang keberlanjutan gerakan Terus Obah, ERAT Indonesia kembali berencana memproduksi rangkaian kelas lansia. Bermodalkan materi kesehatan dan informasi seputar hak-hak kaum lansia. Dengan konsep virtual, diharapkan lebih mendekatkan teknologi informasi kepada lansia serta menjadi ruang bertemu antar kelompok lansia. Ke depan ERAT Indonesia berupaya untuk tidak terus-terusan menjadi penyuplai materi. Sebaliknya, cukup menjadi mediator antar lansia. Biarlah individu-individu dan kelompok ini saling bergantian, bertukar informasi dan cerita suka serta duka menjalani masa tua. Suatu konsep berbagi dari-oleh-untuk lansia.

Kembali lagi, gerakan yang dilakukan kawan-kawan ERAT Indonesia memang tidak begitu besar. Hanya sekedar percikan-percikan kecil dalam upaya memperjuangkan kehidupan lansia. Dari percikan ini diharapkan mampu menyulut individu atau kelompok masyarakat lain untuk peduli terhadap lansia. Minimal mengubah cara pandang terhadap generasi lansia. Bukan lagi dipandang sebagai generasi senja yang selalu harus berkutat dengan istirahat dan ibadah. Karena sejatinya lansia masih memiliki hak yang sama dengan generasi lain, dan itu harus diperjuangkan.

Tanggal 1 Oktober, peringatan Hari Lansia Internasional jangan sekedar seremonial. Mari bergerak, berikan kontribusi, dan jangan pernah berhenti. Salam.

Tentang Penulis:

Adityo Nugroho – Co-founder ERAT Indonesia

Lulusan Magister Sosiologi UGM yang tertarik dengan isu kaum lanjut usia. Sejak akhir tahun 2018 hidup di Belanda untuk mendalami kehidupan lansia di negara maju.