Disobeknya secarik kertas dari buku tulis yang sudah tipis. Ia maju ke kerumunan, tertegun, lalu melangkah lebih maju. Kertas sobekan tadi nampak kusut karena lama digenggam. Tiga orang yang sedang menata benda-benda, mundur, kesempatan terbuka baginya.

Di hadapannya sekarang terbentang benda-benda temuan, mungkin sangat bermakna bagi yang meletakkannya di situ, mungkin juga tidak terlalu, toh manusialah yang membubuhkan makna pada benda-benda lalu mengubahnya menjadi bahasa ucap, tulis, dan berbagai tanda, kode, yang menentukan bagaimana manusia bumi (sewajarnya) berkomunikasi.

Tak mau berlama-lama, ia meletakkan serpihan kertas begitu saja. Diluruskannya kain yang mendasari benda-benda lain. Ia mundur sedikit, lalu sedikit lagi, dan merasa puas.

“Bagus ya..,” bisik rekannya.

Ia tertawa, mungkin menertawakan dirinya karena telah hanyut dalam kegiatan pendek ini, mungkin lega juga bisa berbagi dengan cara sederhana.

Kegiatan pendek yang dimaksud adalah bagian dari Lab Media yang merupakan bagian dari salah satu Komunitas Praktik Terhubung dan Belajar Voice Indonesia. Penulis dan Sutradara Gunawan Maryanto (Cindhil) mengampu kegiatan pendek tersebut, sebagai bagian pertama dari mempelajari Komunikasi Non-Verbal.

Mengapa Komunikasi Non-Verbal ?

Bisakah kita mulai dengan banjir informasi yang kita serap saat sadar penuh maupun sedikit sadar? Informasi dalam bentuk teks maupun gambar (bergerak) yang terus menuntut perhatian, baik karena kita mencarinya maupun sekadar berusaha terhubung dengan dunia.

Menghubungkan advokasi dengan kampanye secara strategis adalah tema yang sengaja dilekatkan pada Lab Media, mengingat kerja-kerja kita selama ini tak lepas dari berbagai upaya meminta perhatian.

Walaupun kita beranggapan isu dan kisah yang kita angkat lebih layak mendapat perhatian, tak ayal keraguan dan kecanggungan menggunakan media (jejaring) sosial membuat beberapa organisasi sungguh-sungguh merumuskan intonasi dan gaya bahasa mereka. Tips dan trik membuat konten viral pun perlahan ditinggalkan para produsen yang kerap berurusan dengan persoalan dan tema-tema perjuangan HAM yang cenderung menguras emosi.

Lantas, di mana peluang kita? Mungkinkah narasi-narasi padat kata dan istilah diringankan tanpa sengaja mereduksi?

Salah satu hal yang dimunculkan Cindhil yang aktif dalam Teater Garasi adalah Komunikasi Non-Verbal. Ia menawarkan cara mengolah gagasan menjadi serangkaian tahap bertutur, dimulai dari pengalaman pribadi. Merangkai makna membutuhkan kesepakatan. Sehingga ketika bicara melalui makna-makna benda, kita juga sedang menyusun kesepakatan.

Benda yang kubawa akan terangkai dengan bendamu, kisah kita berpadu, dan apa yang kita sepakati?

Proses yang pendek ini kemudian berlanjut di malam hari, dengan pancingan menonton kisah seorang aktor Hollywood yang pernah menjadi marinir Amerika Serikat. Tanpa perlu berapi-api dan kalimat-kalimat panjang, presentasi aktor tersebut memunculkan beberapa emosi sekaligus. Gerak tubuhnya pun sangat sederhana karena panggung memang telah disiapkan baginya.

Diskusi setelah menonton tak berlangsung lama karena kita memang perlu merenungkan lagi, bagaimana upaya kita berkomunikasi selama ini?