Kampanye Perang Melawan Narkoba yang dilaksanakan di Indonesia telah memicu kekerasan pada perempuan. Mulai dari stigma sebagai pengguna, pasangan, dan keluarga tertuduh narkotika; pemrosesan di kepolisian dan pengadilan saat menjadi tertuduh pengguna atau pengedar yang berujung pada pemenjaraan tanpa akses rehabilitasi. Hal ini berujung pada berbagai diskriminasi, pembatasan akses fasilitas publik, hingga perlakuan tidak adil di dalam masyarakat.

Status sebagai Warga Binaan Perempuan (WBP) narkotika seolah-olah membatalkan pemenuhan hak-hak perempuan sebagai warga negara, khususnya oleh pemerintah Indonesia yang belum memisahkan pengadilan narkotika sebagai tindak pidana khusus. Salah satu alasan penuhnya rutan dan lapas adalah banyaknya jumlah narapidana narkotika yang mencapai hampir dari setengah kapasitas Lapas dan Rutan.

Gambar dari Pixabay

Sesi Belajar Daring #5 kali ini bertajuk “Perang Melawan Narkotika Pemicu Kekerasan Pada Perempuan”. Mari berdiskusi untuk memahami bagaimana sistem penegakan hukum dan sistem peradilan di Indonesia masih bercorak punitif dan diskriminatif dengan melulu menyasar para pengguna dan pengedar skala kecil.

Sesi belajar kali ini akan diisi oleh Aisya Humaida dari Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBHM), Rosma Karlina dari AKSI Keadilan Indonesia, dan Fisqiyyatur Rohmah dari PKBI Jateng. Ketiga organisasi ini telah aktif dalam memfasilitasi pemenuhan hak khususnya bagi WBP Perempuan.

LBHM merupakan sebuah lembaga yang bekerja untuk memberikan bantuan hukum bagi kelompok masyarakat khususnya kelompok masyarakat rentan yang membutuhkan perlindungan hak asasi manusia. Beberapa waktu lalu LBHM bersama AKSI Keadilan Indonesia mengeluarkan rilis pers terkait kasus penyiksaan Hendri Bakari di Batam. Hendri Bakari adalah seorang pengedar narkotika yang mendapatkan penyiksaan ketika ditangkap dan dibawa ke Polresta Barelang Batam hingga berujung pada kematian.

AKSI Keadilan Indonesia adalah sebuah organisasi yang dibentuk untuk memberikan dukungan pada pengguna NAPZA dan masyarakat rentan yang mencari keadilan. Saat ini AKSI Keadilan Indonesia sedang mengerjakan project “SPIRIT” yang fokus pada pemberdayaan dan peningkatan kapasitas perempuan dan transpuan yang menggunakan narkotika di Asia Tenggara.

PKBI Jateng merupakan sebuah organisasi yang membantu masyarakat dalam pemenuhan hak seksual dan reproduksi khususnya bagi masyarakat rentan. Melalui project “Take Action for the Future!”, PKBI Jateng memberikan berbagai kegiatan peningkatan kapasitas bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP) perempuan di Semarang, Indonesia.

Melalui sesi belajar kali ini, jaringan Indonesia Inklusi mengajak kawan-kawan semua untuk dapat belajar bersama terkait bagaimana kampanye Perang Melawan Narkotika ini telah memicu kekerasan pada perempuan saat akan dipenjara, di dalam penjara, hingga ketika mereka telah bebas. Narasi lain seperti pengecaman berlebihan pada pengguna narkotika juga telah membangun stigma yang membatasi pengguna narkotika khususnya perempuan untuk dapat memenuhi hak dasar mereka sebagai manusia.

Mari bergabung dalam Sesi Belajar Daring #5 yang bertajuk “Perang Melawan Narkotika Pemicu Kekerasan Pada Perempuan”. Sesi ini akan diadakan pada Jumat, 11 September 2020 pada pukul 13.00-15.00 WIB atau 14.00-16.00 WITA. Silahkan klik tautan dibawah untuk mendaftar.

Daftar Bacaan: