Berada di dalam masyarakat yang belum memahami secara mendalam tentang Difabel menjadi sebuah tantangan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif. Berbagai stigma terhadap kelompok difabel tumbuh dengan suburnya di masyarakat. Stigma ini begitu membatasi ruang gerak dan ruang ekspresi kelompok rentan, khususnya kelompok difabel.

Berdasarkan pernyataan dari Yeni Rosa Damayanti dari Indonesian Mental Health Association (PJS-IMHA), situasi pandemi COVID-19 saat ini berdampak negatif pada kelompok disabilitas psikososial. Minimnya protokol kesehatan membuat kelompok difabel psikososial ini menjadi rentan terhadap COVID-19. Selain itu, kelompok difabel di beberapa daerah masih mengalami stigma terkait disabilitas adalah aib. Hal ini memperlebar kesenjangan yang dialami oleh kelompok difabel.

Upaya menghapuskan stigma ini merupakan kerja bersama antara berbagai pihak. Organisasi masyarakat sipil yang memiliki fokus kerja bersama kelompok disabilitas adalah salah satu aktor pembangunan yang inklusif. Kelompok pemuda juga menjadi salah satu bagian penting dalam proses penghapusan stigma terhadap kelompok disabilitas. Keterlibatan pemuda dalam pembangunan bersama kelompok disabilitas merupakan aset sosial penting bagi kelompok disabilitas agar dapat membangun kepercayaan dirinya untuk terlibat dalam berbagai kegiatan dalam masyarakat.

Kali ini, dalam Sesi Belajar Daring #4, kita akan mendengarkan bagaimana organisasi-organisasi dalam jaringan Indonesia inklusi dalam bekerja bersama kelompok disabilitas dan Orang Yang Pernah Memiliki Kusta (OPYMK). Tiga organisasi yang akan membagi ceritanya adalah Difabel Blora Mustika (DBM), Perhimpunan Mandiri Kusta (PerMaTa), dan Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS).

DBM adalah sebuah organisasi yang melakukan kegiatan peningkatan kapasitas bagi anggotanya dan pendampingan bagi berbagai kelompok disabilitas di Blora. Khususnya dalam proses pembuatan kebijakan bersama pemerintah daerah. Kebijakan yang berkelanjutan dan inklusif bagi semua pihak.

PerMaTa melakukan kegiatan di Gowa bersama kelompok pemuda dan disabilitas. Berbagai kegiatan peningkatan kapasitas dilakukan untuk melengkapi para pemuda dan kelompok disabilitas ini dengan kemampuan agar dapat menjalankan organisasi dan berbagai kegiatan pemberdayaa di masa depan. Menggunakan pendekatan yang partisipatoris, PerMaTa memfasilitasi pemuda sebagai agen perubahan.

PJS aktif dalam berbagai kegiatan advokasi kebijakan terkait kelompok disabilitas psikososial. Melalui kegiatan intensif dan keterlibatan langsung dalam proses advokasi, para perempuan dengan disabilitas psikososial diharapkan mampu bersuara untuk dirinya sendiri dan juga untuk perempuan lainnya.

Sesi Belajar Daring #4 kali ini bertajuk “Orang Muda Meningkatkan Kesadaran dan Menghapus Stigma”. Sesi kali ini akan dilaksanakan pada Jumat, 28 Agustus 2020 pada pukul 13.00-15.00 WIB atau 14.00-16.00 WITA. Sesi kali ini pun akan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Indonesia Inklusi. Jadi, mari bergabung dan berbagi kisah bersama!