Gambar ilustrasi diambil dari https://www.instagram.com/p/B3w0X76BPQX/

Pandemi COVID-19 masih membayangi kita hingga hari ini. Di Provinsi Jawa Barat, PSBB secara resmi baru dinyatakan berakhir pada tanggal 26 Juni 2020 yang lalu. Namun, situasi ini tidak menyurutkan semangat kawan-kawan AKATIGA yang berkantor di kota Bandung, untuk menyiasati keterbatasan guna melanjutkan proyek  Ayo Jadi Petani Muda! yang sebagian besar berbasis kegiatan tatap muka. 

Sepanjang bulan Juni, AKATIGA telah menghelat sejumlah agenda daring, antara lain seri bincang-bincang (talks) dan seri webinar. Satu seri infografis juga tayang di akun media sosial. Isu-isu seputar pertanian, anak muda, ketahanan pangan, reforma agraria, akses lahan di pedesaan, kesempatan kerja bagi kelompok marjinal, adalah pokok-pokok bahasan yang sedang digeluti kawan-kawan AKATIGA saat ini. 

AKATIGA talks kali ini mengangkat topik Pasar Alternatif Untuk Pertanian Inovatif. Kenapa harus pasar alternatif? Isu ini diangkat oleh AKATIGA sebagai alternatif skema untuk menjawab berbagai tantangan yang kurang bisa diatasi oleh skema pasar konvensional. Menurut Fadhli Ilhami, peneliti AKATIGA yang mengampu seri talks ini, skema pasar konvensional yang ada selama ini dianggap tidak adil kepada petani, karena memiliki rantai distribusi yang terlalu panjang dari hulu sampai ke hilir. Seluruh proses dan biaya produksi yang menjadi beban petani seringkali tidak mendapatkan apresiasi yang setara atau bahkan dihargai sangat rendah, sementara harga jual di pasar bisa sangat timpang perbedaannya. Nilai lebih yang harusnya banyak diterima petani justru terambil oleh pihak lain dari proses distribusi yang panjang. Oleh karenanya, eksplorasi skema pasar alternatif menawarkan peluang dalam mewujudkan skema yang lebih adil khususnya bagi para petani. 

AKATIGA bersama Komunitas1000Kebun telah mencoba mempraktikkan tiga jenis pasar alternatif, yaitu niche market (pasar ceruk khusus), nest market (pasar jaringan), dan e-commerce. Melalui praktik pasar alternatif ini, para petani bisa memperoleh harga lebih tinggi hingga 30% dibandingkan tengkulak tradisional! Mantap sekali bukan? Penasaran, seperti apa persisnya pasar alternatif ini? Apa saja tantangan-tantangan yang harus dihadapi dalam skema pasar alternatif? Yuk, kawan-kawan inklusi dapat menyimak rekamannya di sini.
Tidak hanya tentang pasar alternatif, AKATIGA juga membagikan tips dan trik untuk pertanian organik bagi kawan-kawan yang tertarik untuk mencoba bercocok tanam di rumah masing-masing. Tips dan trik ini juga sangat cocok bagi pemula, dan bisa menjadi panduan untuk mengenali tahapan dan cara-cara bertani organik agar dapat memberikan hasil yang optimal. Mulai dari cara pembuatan pupuk cair organik, pembuatan media tanam, penyemaian benih, hingga pemeliharaan dan pemanenan. Tips dan trik ini disarikan dari pengalaman bertani organik yang dikembangkan oleh teman-teman petani muda di Program ‘Ayo Jadi Petani Muda!’ melalui dukungan VOICE

Gambar ilustrasi diambil dari instagram Akatiga

Persoalan pasar dan transfer pengetahuan sebagaimana yang dibahas di atas, hanyalah satu diantara sekian banyak faktor yang menyebabkan generasi muda enggan bertani. Jika kawan-kawan ingat, dalam diskusi Generasi Muda, Ini Waktunya Yang Muda Yang Bertani, di forum indonesiainklusi.id pada April lalu, masalah ketiadaan akses lahan bagi anak-anak muda, kelompok miskin, dan kelompok marjinal, juga menjadi masalah besar bagi pertanian di Indonesia saat ini. AKATIGA telah melakukan riset terkait hal ini sejak 2013, dan melakukan pemetaan atas tata kelola tanah kas desa di Kabupaten Kebumen. Sejumlah seri diskusi digelar bersama para pejabat daerah terkait, baik di tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Pada Januari 2020, mereka telah bertemu untuk membahas Pengelolaan Tanah Kas Desa yang Inklusif.  Kita dapat menyimak kelanjutan topik ini, dalam diskusi Mendorong Regulasi tata kelola tanah kas desa yang berkeadilan yang digelar pada Juni lalu.