Dalam jaringan Indonesia Inklusi, tiap organisasi memiliki kelompok dampingan serta aktifitas masing-masing. Namun dengan semangat inklusi, saling menghubungkan antar organisasi lalu kemudian saling belajar merupakan salah satu tujuan dari jaringan Indonesia Inklusi. Setelah Sesi Belajar Daring rutin dilaksanakan sebelumnya, kali ini organisasi-organisasi dalam jaringan Indonesia Inklusi akan mengikuti seri lokakarya yang kali ini tentang Gender dan Interseksionalitas.

Lokakarya ini juga menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas secara kolaboratif antar organisasi dalam jaringan Indonesia Inklusi. Lokakarya ini bertujuan untuk membantu organisasi-organisasi dalam memahami spektrum gender, meningkatkan kepekaan terhadap gender di dalam organisasi maupun di kehidupan sosial, lalu memahami prinsip interseksionalitas, dan mampu menyebarkan ilmu pengetahuan yang di dapat kepada organisasi masing-masing.

Pada sesi Lokakarya ini, para peserta saling belajar dan berbagi cerita terkait pemahaman masing-masing tentang Gender dan Interseksionalitas. Sesi Lokakarya ini difasilitasi oleh SOFI, Yayasan Pesona Jakarta, YIFOS, dan Ardhanary Institute. Kawan-kawan ini adalah para ahli, aktivis, dan peneliti di bidang Gender dan Interseksionalitas. Lokakarya ini diikuti oleh lebih dari 25 peserta dari berbagai organisasi dengan isu kerja yang berbeda-beda.

Di awal lokakarya ini, peserta diajak untuk mengikuti permainan dengan nama “privilege game”. Permainan ini mengajak peserta untuk dapat memahami keistimewaan dari masing-masing identitas dalam kehidupan bermasyarakat. Peserta diberikan peran untuk kemudian dipahami secara mendalam. Setelahnya, para peserta yang sedang memerankan tiap-tiap peran tersebut diberikan pernyataan tentang berbagai sistem sosial yang ada. Peserta kemudian diminta untuk mengatakan “maju” apabila pernyataan tersebut sesuai dengan peran mereka, dan mengatakan “mundur” apabila pernyataan tersebut tidak sesuai. Di akhir, para peserta diminta untuk merefleksikan bagaimana dan kenapa peran-peran tersebut dapat “maju” dan “mundur”. Hal ini penting untuk menunjukkan bahwa di lingkungan sosial ini, banyak sekali identitas yang ada dan tiap-tiap individu dapat memiliki berbagai jenis identitas. Individu-individu ini dapat dengan tidak sadar mendapatkan berbagai keistimewaan namun banyak juga yang memiliki keterbatasan akses atas hak-hak mereka.

Aktifitas berikutnya adalah adaptasi daring dari metode “world café”. Pada metode “world café”, peserta dikumpulkan pada kelompok-kelompok yang kemudian saling menyampaikan pendapat atas suatu topik dan difasilitasi oleh satu fasilitator. Setelah beberapa menit, peserta akan diminta untuk berpindah kelompok. Pada lokakarya ini, bukanlah peserta yang berpindah namun fasilitatornya yang berpindah. Ini memudahkan pengaturan teknis dari platform digital yang digunakan. Pada aktifitas ini, para peserta menyampaikan pendapat mereka tentang stigma-stigma yang mereka tahu tentang beberapa kelompok marjinal. Kelompok-kelompok tersebut adalah kelompok LGBTQIA+, Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK), Penghayat Kepercayaan, dan Pekerja Seks. Setelah berbagai stigma terkumpul, peserta diminta untuk meresapi stigma-stigma tersebut dan membayangkan apabila stigma tersebut ditujukan kepada mereka. Peserta diajak untuk membacakan stigma-stigma tersebut dengan menambagkan kata “saya” setiap kali membacakan stigma tersebut. Melalui pembacaan secara personal ini, peserta diharapkan dapat sedikit merasakan apa yang dirasakan oleh kawan-kawan yang menerima stigma-stigma ini.

Setelah melaksanakan dua aktifitas ini, para peserta diberikan materi tentang identitas dan bagaimana menganalisa identitas tersebut. Materi ini disampaikan oleh Omen dari SOFI. Di awal, Omen mengajak peserta untuk menggambar bunga beserta kelopaknya sebagai representasi identitas seseorang. Lalu, satu persatu kelopak identitas itu dihapus sehingga tersisa identitas utama. Peserta kemudian diajak untuk refleksi atas proses itu dan bagaimana perassaan mereka ketika identitas itu satu persatu menghilang. Omen menjelaskan bahwa identitas adalah sesuatu yang dinamis dan bisa dibangun sehingga perlu dipahami bahwa saling menghargai identitas tersebut menjadi kunci dalam membangun masyarakat yang inklusif.

Pada sesi terakhir, seorang konsultan dan peneliti gender dan interseksionalitas, Ayu Regina Yolandasari dari Ardhanary Institute menjelaskan tentang interseksionalitas, Ayu menjelaskan bahwa interseksionalitas berkaitan dengan identitas yang saling berkaitan antar satu sama lain. Seseorang bisa memiliki berbagai identitas dalam satu tubuh. Ini sangat berkaitan dengan gender dimana gender tidak bisa disamakan dengan jenis kelamin secara biologis. Lebih dalam, Ayu menjelaskan tentang seksualitas dan SOGIE-SC bahwa seksualitas adalah aspek sentral dari seluruh kehidupan manusia. Ini dipengaruhi oleh interaksi berbagai faktor dan dialami serta diekspresikan dalam berbagai bentuk. Sedangkan SOGIE-SC sendiri adalah Sexual Orientation, Gender Identity and Expression, dan Sex Characteristic. Ayu menjelaskan secara dalam bagaimana mengidentifikasi karakter seksualitas dan bagaimana menghargai identitas orang lain.

Ayu menerangkan bagaimana perspektif kita telah terkotak-kotakan pada peran dan fungsi yang ada di masyarakat. Sehingga ini membatasi ruang pikir kita untuk dapat menerima seseorang yang identitasnya tidak sesuai dengan peran dan fungsi tersebut. Dengan menyadari ini, peserta diajak untuk dapat bisa lebih terbuka dan secara aktif mendengarkan orang lain agar dapat memahami secara mendalam identitas seseorang. Hal ini penting untuk membongkar stigma yang dialami oleh kelompok marjinal tersebut. Tentunya kolaborasi bersama untuk saling membuka pikiran dan sudut pandang sangatlah penting. Jaringan Indonesia Inklusi secara aktif mengajak berbagai organisasi untuk dapat berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif.