Beranda Forums Belajar dari Komunitas Muda dan Berdaya Ini Waktunya Yang Muda Yang Bertani

Tagged: 

Viewing 6 reply threads
  • Author
    Posts
    • rahmade
      Participant
      Post count: 17

      GENERASI MUDA, INI WAKTUNYA YANG MUDA YANG BERTANI

      Halo teman-teman Indonesia Inklusi, dalam kesempatan ini, kami dari AKATIGA, ingin berbagi cerita tentang latar belakang dan gagasan yang dikembangkan dalam Program Ayo Jadi Petani Muda bersama VOICE. Bergerak dari penelitian pertanian, pangan dan kesempatan kerja di pedesaan yang kami kembangkan sejak 2013, perhatian kami mengerucut pada beberapa gagasan tentang bagaimana mendorong orang muda dapat terlibat dalam pertanian. Gagasan ini menjadi latar belakang program dan kemudian dikembangkan bersama teman-teman mitra yang terlibat. Berikut cerita lengkap bagaimana kami mengembangkan gagasan ini. Yuk mari kita simak bersama ceritanya.

      Apakah betul orang muda tidak mau bertani?

      Narasi secara umum saat ini menceritakan bahwa regenerasi petani di Indonesia berjalan lambat. Dimana hal itu dapat mengancam stabilitas produksi pangan di masa depan. Dan situasi ini disebabkan karena orang muda enggan untuk bertani.

      Di tingkat makro, data statistik dari Biro Pusat Statistik tahun 2018 menunjukkan bahwa profil petani di Indonesia didominasi oleh generasi tua, berumur 45 tahun ke atas. Hanya kurang dari 11 persen saja petani yang berusia di bawah 35 tahun.

      Orang muda di perdesaan diberitakan lebih senang bekerja ke kota, menjadi pegawai minimarket, penjual pulsa, atau ojek. Banyak suara yang mengatakan, orang muda tidak mau bertani karena para generasi milenial itu takut panas, kotor, dll. Atau dalam kata lain, mereka itu manja, tidak mau kerja keras. Mereka juga disebut tidak memilih pertanian karena menganggap petani adalah pekerjaan yang tidak keren dan tidak menguntungkan.

      Namun, menempatkan persoalan regenerasi petani itu hanya karena sebab tidak minatnya generasi muda pada pertanian, tentu baru hanya melihat dari satu sisi. Studi kami di AKATIGA yang dilakukan di 20 desa penghasil padi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Manggarai Barat, dan Lampung pada tahun 2013-2017 menemukan bahwa lambatnya regenerasi petani bukan sepenuhnya salah generasi muda.

      Orang muda sebenarnya mau bertani. Tapi orang muda ini menghadapi berbagai tantangan dalam mewujudkan keinginan mereka untuk terlibat dalam pertanian.

      Apa yang sebenarnya terjadi ?

      Studi kami menemukan bahwa meski lambat, regenerasi petani masih terjadi. Jumlah petani sebenarnya relatif stabil dalam beberapa dekade terakhir. Regenerasi yang lambat terjadi karena lahan yang terbatas, membuat orang muda harus menunggu lama untuk mendapatkan lahan untuk diakses. Orang muda yang belum berkeluarga tidak prioritas mendapat akses lahan. Meski demikian kebutuhan hidup mereka tetap harus dipenuhi. Sebab itu, mereka memilih ke luar desa dulu mencari pekerjaan.

      Bagi mereka yang tidak berhasil di rantau, atau karena memang ingin hidup di kampung, para orang muda ini biasanya pulang di sekitaran umur 30-40an tahun. Di usia ini akhirnya mereka mendapat kesempatan menggantikan para petani tua untuk akses lahan. Namun saat menjadi petani, mereka tidak memiliki pengetahuan memadai. Mereka hanya meniru cara bertani konvensional, dan akhirnya tetap tidak bisa membuat pertanian itu menjadi lebih menguntungkan. Pola ini yang biasanya terjadi.

      Sulitnya akses tanah dirasakan oleh Bambang yang tinggal di desa Sidomulyo, Kec. Petanahan, Kab. Kebumen. Bambang adalah pemuda yang beranjak dewasa, umurnya sudah menginjak 25 tahun. Sejak tamat SMP, dia tidak sekolah, dan mulai bekerja kesana-kemari untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri, dan membantu orang tua.

      Menjadi petani mandiri, yang mengolah lahan sendiri, adalah salah satu pekerjaan yang diharapkan oleh Bambang untuk masa depannya. Namun, berhubung keluarganya tidak punya lahan dan harus menyewa ke desa, keluarga Bambang hanya diijinkan menyewa satu petak lahan, dan itu diberikan atas nama ayahnya selaku kepala keluarga. Bambang sendiri hanya bisa bantu-bantu, atau bekerja upah harian untuk penggarap yang lainnya.

      Lain lagi cerita di Kampung Cibiru, Desa Cicantayan, Sukabumi. Banyak orang muda di desa tersebut yang berharap bisa bertani, karena ada lahan yang tersedia di sekitar mereka. Salah satunya adalah Uji, laki-laki 23 tahun, bermimpi ingin bisa bertani karena orang tuanya masih memiliki sebidang tanah kecil. “Bagaimana pun saya akan kembali ke desa, jadi harus bisa bertani”. Tapi, Uji ingin bertani sayur, tidak hanya padi sawah, karena menurutnya usaha sayur lebih menguntungkan daripada padi.

      Sayangnya, Uji, dan seperti kebanyakan temannya yang lain di Cibiru, masih bingung bagaimana memulainya. Di desa tersebut, petani hanya menanam padi sawah atau berladang singkong dan ubi. Menurut mereka, tanah tersebut tidak cocok untuk tanaman sayur. Kabarnya pernah ada yang mencoba menanam sayur kol, tapi hasilnya buruk, dan orang tersebut rugi besar.

      Dalam situasi itu, tidak tersedianya pengetahuan yang tepat dalam bertani, menyurutkan niat Uji dan teman-temannya untuk memulai menjadi petani sayuran.

      Ini membuktikan bahwa orang muda sebenarnya tidak meninggalkan pertanian. Namun, mereka perlu dukungan untuk mengatasi kendala-kendala yang mereka hadapi, agar mereka dapat terus melanjutkan niatnya untuk bertani. Orang muda perlu didukung dengan menyediakan akses terhadap sumberdaya lahan, dan juga perlu memberi kesempatan bagi mereka untuk belajar pertanian inovatif yang lebih menguntungkan daripada pertanian konvensional.

      Mendorong pertanian menjadi lapangan kerja keren bagi orang muda

      Patut disyukuri, belakangan ini geliat orang muda di pertanian terlihat meningkat, dibuktikan dengan munculnya berbagai inisiatif komunitas orang muda bertani baik di daerah perkotaan maupun perdesaan. Sebagai contoh adalah, Komunitas 1000Kebun di Bandung, Karang Taruna Mandala Cipta di Kulonprogo, Komunitas Sabalad di Pangandaran, Sayur Organik Merbabu, dan komunitas Martani di Kalasan Yogyakarta. Dari pendalaman yang kami lakukan, kami menemukan dua komunitas yang kiranya sangat unik dalam inovasinya, yakni Komunitas 1000Kebun dan Karang Taruna Mandala Cipta.

      Komunitas 1000Kebun adalah komunitas yang mewadahi petani organik di Kota Bandung dan sekitarnya, artisan lokal, kelompok antusias pangan sehat, dan konsumen. Komunitas ini digerakkan oleh orang muda Bandung yang juga mengembangkan pertanian organik dengan berbagai metode pertanian kontemporer, serta menggunakan aplikasi media sosial untuk pemasaran produk mereka.

      Sementara itu, Karang Taruna (KT) Mandala Cipta dari Kulon Progo berhasil membangun minat orang muda desa untuk bertani kolektif dengan akses tanah kemakmuran desa yang dikelola oleh Karang Taruna tersebut. KT Mandala Cipta juga telah membuktikan bahwa organisasi ini mampu melakukan berbagai kegiatan ekonomi produktif dengan bertani dan beternak ayam dan kambing, selain melakukan kegiatan keolahragaan, kesenian dan keagamaan ‘hadroh’, dan bakti sosial.

      Keunikan pendekatan dari dua komunitas ini memicu kami untuk mempelajari inovasi mereka lebih jauh. Komunitas 1000kebun membuktikan bahwa pertanian adalah lapangan kerja yang layak bagi orang muda, bahkan jika mereka tinggal di kota. Adapun Karang Taruna Mandala Cipta, membuktikan bahwa orang muda ternyata bisa mengakses tanah milik desa untuk bertani dengan menggunakan pendekatan kelembagaan.

      Bersama-sama Komunitas 1000Kebun dan Mandala Cipta, akhirnya kami mengembangkan gagasan, bahwa ;

      Jika pertanian itu menggunakan cara yang inovatif dan menarik, dan dijalankan secara kolektif berdasarkan semangat kebersamaan untuk mendorong pengembangan komunitas pemuda di desa, maka hal ini berpeluang mendorong akses lahan dan membuat pertanian lebih menguntungkan bagi orang muda di perdesaaan.

      Orang muda berpeluang mengakses lahan milik desa, jika itu dilakukan secara kolektif. Upaya kolektif itu bisa melalui karang taruna atau melalui komunitas yang diakui pihak desa. Adanya hak karang taruna atau komunitas atas dukungan pemerintah desa untuk pengembangan mereka, menjadi alasan yang cukup kuat untuk melobi akses lahan yang ada di desa untuk kepentingan pengembangan kelompok pemuda.

      Untuk membuat usaha pertanian itu lebih menguntungkan daripada pertanian konvensional. Orang muda bisa mencoba mengembangkan teknik bertani organik, dengan upaya mengembalikan kesehatan tanah, sehingga bisa menanam berbagai macam jenis, dan menghasilkan komoditi yang bernilai lebih. Dua gagasan pokok inilah yang kemudian kami tawarkan untuk diimplementasikan bersama teman-teman muda di Kampung Cibiru, Kab Sukabumi, dan di Desa Sidomulyo, Kab. Kebumen, yang disesuaikan dengan konteks lokal dan kebutuhan masing-masing.

      Di bawah payung Program Ayo Jadi Petani Muda, melalui pendanaan Program HIVOS-VOICE Innovate and Learn Grant, kami mencoba memfasilitasi Komunitas 1000Kebun dan Karang Taruna Mandala Cipta untuk menjadi pendamping bagi kelompok tani muda di Desa Sidomulyo dan Kamung Cibiru.

      Kami saling mencoba dan mempelajari, kemudian menginovasi satu persatu ide yang disusun bersama. Menuju pembelajaran yang terbuka tentang bagaimana mendorong pertanian sebagai lapangan kerja yang keren bagi orang muda.

      Baik teman-teman, demikianlah cerita pengantar tentang program Ayo Jadi Petani Muda. Terima kasih sudah membaca, semoga bisa menjadi bahan pembelajaran bersama. Jika ada pertanyaan, saran dan masukan dari teman-teman, yuk mari kita diskusikan dalam forum ini. Salam.

      • This topic was modified 3 months, 1 week ago by rahmade.
      • This topic was modified 3 months, 1 week ago by rahmade.
      • This topic was modified 3 months, 1 week ago by rahmade.
      • This topic was modified 3 months, 1 week ago by rahmade.
      • This topic was modified 3 months, 1 week ago by rahmade.
      • This topic was modified 3 months, 1 week ago by rahmade.
      • This topic was modified 3 months, 1 week ago by rahmade.
      • This topic was modified 2 months, 3 weeks ago by Pitra Hutomo.
      • This topic was modified 2 months, 3 weeks ago by Pitra Hutomo.
      Attachments:
      You must be logged in to view attached files.
    • superadmin
      Keymaster
      Post count: 1

      Wah menarik soal petani muda ini, cocok dengan keadaaan sekarang soal Covid19 dan pangan…bagaimana seharusnya menyikapi.

      salam

      • rahmade
        Participant
        Post count: 17

        Iya benar sekali. Isu keberlanjutan generasi pertanian ini, sangat berkaitan dengan keberlanjutan pangan. Nah keberlanjutan pangan ini, selain dipengaruhi oleh adanya keberlanjutan SDM yang menjalankan, tentu dipengaruhi faktor lain.

        Di masa pandemi ini kita melihat persoalan, keberlanjutan pangan bisa bermasalah jika akses masyarakat terhadap pangan tidak tersedia.Sebenarnya saat ini pangan tersedia, namun karena protokol penanganan covid-19 membatasi ruang gerak kita, distribusi pangan tidak berjalan dengan baik.

        Imbas protokol penanganan Covid-19 terhadap rantai pasok pangan yang sangat panjang sangat nyata. Panen di desa tidak bisa optimal dikirimkan ke konsumen yang paling banyak di kota. Tengkulak menggunakan alasan sulitnya distribusi logistik ke kota untuk menekan harga. Akibatnya harga pangan di desa rendah.

        Sementara itu, protokol penanganan Covid-19 di kota berimplikasi langsung trehadap ketergantunga masyarakat kota terhadap akses pangan. Tidak tersedianya lumbung pangan mandiri di perkotaan membuat masyarakat kota sangat rentan kehilangan akses pangan saat pandemi. Pangan menjadi langka, dan semakin mahal.

        Dalam kondisi ini, yang terdampak langsung adalah, para petani kecil di pedesaan yang kehilangan pendapatan, dan para masyarakat marjinal di perkotaan yang tidak sanggup membeli pangan.

        Dalam kondisi ini, perspektif minimnya keterlibatan orang muda berpengaruh terhadap keberlanjutan pangan menjadi relevan. Sesungguhnya, jika orang muda terlibat lebih banyak dalam berbagai lini pangan, ada opsi lain yang dapat dipilih.

        Gerakan pertanian di perkotaan yang memanfaatkan lahan sempit adalah salah satu inisiatif yang didorong oleh berbagai kelompok orang muda. Gagasan mereka untuk membangun sumbre pangan di perkotaan adalah wujud dari pemahaman mereka yang lebih holistik tentang kedaulatan pangan dan pemeliharaan lingkungan.

        Sementara itu, inovasi-inovasi generasi muda dalam menyambungkan kantung-kantung produksi pangan dengan konsumen melalui berbagai mekanisme yang memotong rantai pasok panjang juga merupakan opsi penting dalam mengatasi persoalan akses pangan. Ada yang mengembangkan model akses pangan berbasis komunitas. Dimana ada lingkar komunikasi yang terkelola dengan baik, yang menyambungkan antara petani, distributor dan pasar dalam komunikasi tang interaktif. Dan ini sepenuhnya memanfaatkan teknologi informasi tang aplikatif.

        Dalam isu yang lebih besar, seperti juga yang disampaikan di undangan diskusi ini, persoalan ini layak kita pikrkan untuk keberlanjutan masa depan pangan kita. Apakah kita akan tetap menyerahkan diri pada kondisi rentan ini, atau ingin melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Yuk mari sama-sama kita bahas isu ini lebih mendalam.

        teman-teman bisa bertanya dan berbagi lebih jauh mengenai isu-isu berikut;
        🐛 Benarkah orang muda makin jauh dari pertanian?
        ☠️ Landless alias “ga punya” lahan?
        🐌 Ketahanan atau kedaulatan pangan?
        🕸️ Siapkah kita jika Covid-19 memicu krisis pangan berkepanjangan?

      • rahmade
        Participant
        Post count: 17

        Ada titipan respon dari Teh evi, anggota Ketan Pedo, Sukabumi;
        “Untuk kami disini yang masih diperkampungan & tidak terlalu worry untuk beraktivitas disekitaran rumah sih masih relatif bisa bertani sebagaimana hari biasanya tapi untuk urban farming apalagi yang sudah berstatus zona merah sepertinya ada beberapa point yang harus dilakukan (wajib bagi setiap petani) berkaitan dengan pencegahan COVID-19 apalagi untuk poktan yang beranggotakan banyak orang…”

      • rahmade
        Participant
        Post count: 17

        Dari Nofa AKATIGA ;

        “Bukan bermaksud memanfaatkan pandemi si, tp mungkin blessing in disguise nya adalah bahwa profesi petani itu sangat dibutuhkan, mau apapun keadaannya. Kalo pemuda bisa sadar dan ambil peluang, mungkin bisa lebih banyak pemuda yang turun ke pertanian.”

      • rahmade
        Participant
        Post count: 17

        Dari Charina AKATIGA ;

        “Ini jadi bukti, bahwa sangat pentingnya tetap menyediakan pangan (yang layak dan bergizi) dalam keadaan krisis. Kasus covid menunjukkan juga pentingnya memahami dan selalu memonitoring rantai hulu hilir pangan dari petani sampai ke tangan konsumen.”

    • Pitra Hutomo
      Keymaster
      Post count: 3

      Halooo…pagi tadi menemani bocah mengerjakan tugas sekolah tentang alat musik tradisional. Teringat Gejog Lesung, lalu mencarinya di YouTube. Rupanya dia sudah diakui sebagai pertunjukan hiburan bahkan kompetisi..

      Kembali ke tugasnya bocah, harus ada berbagai penjelasan tentang alat musik yang dipilih. Jadilah kami mencari seperti apa Gejog Lesung sebelum diangkut ke panggung-panggung pertunjukan?

      Salah satu sumber yang kami baca bilang begini:
      “Gejog Lesung sebagai kesenian tradisional sudah jarang ditemui karena rendahnya apresiasi masyarakat terhadap kesenian tersebut. Generasi terdahulu mengalami kesulitan dalam mewariskan Gejog Lesung karena keberadaan lesung yang sejatinya merupakan alat penumbuk padi sekaligus instrumen utama kesenian tersebut sudah jarang ditemui karena dianggap kurang efektif dan efisien, sehingga digantikan oleh alat penggiling padi modern yang dianggap lebih efektif dan efisien.”

      Lagi-lagi pengaruh modernisasi alat? Gimana menurut kawan-kawan pengaruh langsung modernisasi alat pertanian?

      Ini buat hiburan sambil diskusi :D
      https://www.youtube.com/watch?v=wiK5hLcqEDY – Kesukaan saya lebih ke gejogan gunungkidulan (ngarang bae haha..) daripada gejog mbantulan

      • This reply was modified 2 months, 4 weeks ago by Pitra Hutomo.
      • This reply was modified 2 months, 4 weeks ago by Pitra Hutomo.
      • This reply was modified 2 months, 4 weeks ago by Pitra Hutomo.
      • rahmade
        Participant
        Post count: 17

        Baiklah, kebetulan respon-respon atas pertanyaan di forum ini juga diberikan oleh teman2 yang lain di Program Ayo Jadi Petani Muda.

        Untuk isu ini, mba Lia dari AKATIGA memberikan pandangan bahwa terkait modernisasi pertanian perlu melihat konteks kesempatan kerja di desa2 terkait. Studi Combine Harvester (CH) nya Akatiga, menemukan bahwa bantuan hibah mesin panen dropping dari Kementan ini banyak yg ga efektif dan tidak tepat sasaran.

        Bantuan mesin Combine Harvester diberikan ke desa2 yg buruh panen nya masih banyak (bahkan, panen sebenarnya masih menjadi tahapan yg paling digemari dan menyerap banyak tenaga kerja lintas usia tua-muda).

        Penelitian ini juga bilang klo hibah mesin panen ini bikin problem2 lain, seperti
        1) kalo lahan udh dipanen pake CH, buruh panen tadi ga akan mau lagi kerja di sawah itu (juga utk tahapan pekerjaan yg lain)
        2) kalo dipanen pake CH, tanah sawah jadi padat dan keras, sehingga biaya olah lahan di musim berikutnya lebih costly
        3) buruh2 panen dan para perempuan tua yg ‘ngasak’ ngambilin sisa-sisa panen ga bisa lagi dapat bagian, klo ga salah itung2annya, 1 Ha lahan pake CH bisa menggeser 30 orang buruh panen
        4) pendapatan tidak terdistribusi dan mengarah kepada inequality

        Dalam situasi ini, sudah jelas, teknologi CH yang diinduksi ke masyarakat perdesaaan memberi impak pada banyak hal. Studi AKATIGA memang melihat lebih banyak faktor sosio ekonomis yang terdampak. Yang utama adalah mengurangi kesempatan kerja. Berikutnya berdampak pada tataran kesnimabungan relasi sosial masyarakat perdesaan yang sudah terbangun dalam pola relasi kerja bersama, dirusak oleh pola baru yang menyingkirkan semangat tersebut.

        • This reply was modified 2 months, 4 weeks ago by rahmade.
        • This reply was modified 2 months, 4 weeks ago by rahmade.
        • This reply was modified 2 months, 4 weeks ago by rahmade.
      • rahmade
        Participant
        Post count: 17

        Dari teh Evi Sukabumi :
        “Buat saya sih kalo melihat dari sudut keefektifan & keefisienan lebih memilih yang modern-modern saja (tolong jangan dibully,,,😋) tapi jika melihat dari sudut peluang bisnis kita dapat mengesampingkan alat-alat modern guna menarik perhatian para wisatawan agar mau datang ke tempat-tempat yang menjadi pusat pertanian (ceritanya mimpi kita untuk menjadi ketan pedo membuka tempat wisata).”

      • rahmade
        Participant
        Post count: 17

        Dari saya sendiri ;

        Di luar itu, seperti yang mba Fitra sampaikan di atas, teknologi modern juga menggerus warisan kebudayaan yang dimiliki masyarakat pertanian. Dalam kesempatan ini saya sendiri akan mencoba menambahkan respon dari mba Lia dengan perspektif analisis kebudayaan.

        Lesung adalah salah satu produk budaya material masyarakat pertanian. Fungsi dasarnya adalah alat produksi, namun sebagaimana produk-produk budaya material lainnya, lesung tidak berhenti pada aspek itu saja. sebagai bagian dari keseluruhan nilai budaya, lesung memiliki nilai tambah saat ia menjadi instrumen seni, bentuk lain dari kebudayaan.

        Dalam hal ini, kita perlu melihat, pelestarian lesung dalam arti penggunaan dalam produksi beras, akan ditantang oleh narasi efektifitas dan efisiensi dari mesin penggiling. Sama halnya dengan tergesernya pekerjaan panen manual oleh combine harvester, dan hal ini bagian yang paling sulit untuk dilawan.

        Namun, saat lesung menjadi instrumen dari suatu kesenian, dia masih punya ruang untuk hidup dalam bingkai pelestarian seni, yang mana saat ini lebih menjadi concern yang didorong bagi banyak pihak.

        Lalu apakah baik atau tidak baik saat menghilangnya lesung dari alat produksi tani perdesaan? Dalam perspektif kebudayaan, tidak ada produk kebudayaan yang bersifat ajeg. Semuanya dinamis, dan dapat berkembang sesuai fungsinya di setiap kelompok manusia dan ruang waktunya.

        Artinya, upaya melestarikan itu penting, sepanjang produk kebudayaan tersebut masih memiliki relevansi dalam menjawab kebutuhan masyarakat pada ruang waktu tertentu. Jika tidak, ia mungkin sudah tergantikan fungsinya oleh produk yang lain.

        Namun demikian, dalam hal ini, sebagai masyarakat yang perlu belajar dari kebijakan-kebijakan para pendahulu. Merawat, melestarikan dan memfungsikan apapun produk2 kebudayaan yang dimiliki sejak dulu adalah iktiar baik untuk menguatkan kebudayaan saat ini. Lesung sebagai alat produksi dan instrumen seni dalam hal ini, tetap layak kita dorong untuk dilestarikan.

    • Komedikasi
      Moderator
      Post count: 9

      Wah menarik banget topik Petani Muda ini.
      Saya sendiri punya adik yang baru saja lulus sma dan memilih untuk kuliah Agronomi. Saya sendiri agak khawatir dengan jurusan ini. Namun kalau saya melihat di sisi lain, banyak banget gerakan-gerakan yang menarik terkait pertanian seperti misalnya 1000kebun yang udah dibahas.
      Mungkin saya penasaran sih, apakah mungkin di masa depan bertani/ bercocok tanam/ berkebun itu dilakukan secara berkelanjutan oleh masing-masing individu sehingga sifatnya lebih ke personal farming gitu pakai prinsip permakultur?
      Saya ngebayangin tiap orang bisa self-sustain dr segi pangan dengan memiliki kebun kecil masing-masing hehe.

      • rahmade
        Participant
        Post count: 17

        Dalam industri film, Distopia adalah genre yang termasuk paling laris saat ini. Meskipun berisi gambaran masa depan yang tidak menentu, film Distopia dipercaya sebenarnya adalah cerminan dari kondisi masyarakat saat ini.

        Dalam film-film itu pangan tetap menjadi salah satu yang dibahas. Apakah itu menjadi sumber daya langka yang diperebutkan hingga menyebabkan perang/chaos, atau malah adanya satu jawaban tekonologis atas penyediaan pangan yang berkelanjutan.

        Hal yang menarik adalah, para ahli pangan, yang menumbuhkan, merawat dan memproduksi pangan tidak pernah bisa dilakukan secara massal oleh individu-individu. Pertanian tetap dilakukan secara komunal, atau oleh korporat. Ini urusannya rezim ekonomi politik apa yang dominan menentukan.

        Jika pun ada cerita tentang bertani sendiri, seperti yang dilakukan Thanos :), itu lebih ke kasus-kasus kecil. Bahkan upaya menumbuhkan pangan di Mars dalam film Martian, meski sendiri, namun itu untuk tujuan bersama.

        Meski agak mengawang, hal ini menurut saya suatu pembalajaran. Bahwa meskipun upay untuk bertanam sendiri itu hal yang dapat dilakukan oleh individual. Namun, urusan pemenuhan pangan bukan urusan individual. Ini adalah urusan umat manusia, ada social boundary yang mengikat kita untuk bekerja bersama dalam hal ini.

        Menurut saya, upaya pertanian meski dapat dilakukan sendiri-sendiri (bagi mereka yang punya sumberdaya), namun tetap perlu ada mekanisme yang bisa mendistribusikan pangan tersebut bagi mereka yang tidak punya sumberdaya.

      • rahmade
        Participant
        Post count: 17

        Dari mba Charina AKATIGa ;
        AKATIGA selalu mendukung praktik bertani yang berkelanjutan seperti Permakultur. Tetapi, kami masih belum yakin bahwa kebutuhan pangan dapat ditangani oleh masing – masing individu. Hal ini dikarenakan :

        (1) tidak semua punya lahan yang mumpuni untuk bercocoktanam dan memenuhi kebutuhan dirinya atau rumah tangganya, hal ini terutama terjadi di perkotaan.
        (2) Meskipun urban farming dan Gerakan alternative pangan lainnya banyak bermunculan, tetapi kita harus melihat apa yang ditanam oleh pelaku urban farming tersebut, apakah itu tanaman pangan untuk kebutuhan hidup atau tanaman seperti sayur – sayuran dalam jumlah kecil.

        Selama urban farming lebih banyak menyuplai kebutuhan sayur dan side dish makanan (bukan makanan pokok), jadi lebih sulit melihat masa depan bertani diselesaikan oleh masing – masing orang.

        Contohnya di Belanda banyak yang menanam di balkonnya tetapi tomat untuk temen makan roti, mint (untuk temen minum mojito), dll. Sangat jarang dan hampir ga pernah yang menanam gandum di balkon atau di pekarangan mereka.

      • rahmade
        Participant
        Post count: 17

        Dari Galih 1000Kebun :

        “Trend bertani dan bercocok tanam kedepan pasti akan dituntut untuk lebih berkelanjutan karena jumlah populasi manusia makin banyak tapi lahan dan sumber daya semakin sempit dan menjadi aset yang sangat berharga akibatnya trend bertani sekarang yang sifatnya eksploitatif tidak bisa lagi dilakukan karena dampak lingkungan yang merusak kedua asset penting tsb.”

    • Pitra Hutomo
      Keymaster
      Post count: 3

      Trims, Sutan, lanjutan penjelasannya..

      Mana ya, yang lebih berpengaruh menentukan keputusan berkebun/menanami lahan di kota?
      * Keinginan mencukupi diri sendiri
      * keterbatasan akses ke pendapatan yang “layak” (ini nih nasib orang muda di DIY yang upah minimumnya jongkok saklawase..yah, apa daya bagi kami yang statusnya cuma kawula/jelata)
      * atau karena ada perubahan di jenis pangan itu sendiri seperti memilih jadi vegetarian/vegan/plant-based (kebanyakan bahan pangan yang memadai nutrisi untuk vegan/vegetarian malah di pasaran masuk kategori bahan impor)

      • rahmade
        Participant
        Post count: 17

        Dari Galih 1000Kebun :

        “Sebenarnya sangat berhubungan antara pendapatan mengakibatkan kesulitan akses thd pangan sehat yang hanya bisa diakses oleh masyarakat gol ekonomi menengah keatas pr nya sebenanrnya menumnuhkan awarenes di masyarakat gol ekonomi menengah bawah bahwa kedaulatan pangan dapat dicapai dengan memanfaatkan sumberdaya dan lahan yang ada di sekitar rumahnya /urban farming.”

      • rahmade
        Participant
        Post count: 17

        Dari Hilda AKATIGA ;

        Alasannya menurutku lebih ke bintang 1 dan 3.Sementara bintang no 2 cenderung engga karena justru urban farming ini lebih banyak dilakukan masy kota kelas menengah/atas, masyarakat dengan pendapatan terbatas di kota atau yang tinggal di slum area belum melihat ini sebagai peluang untuk memenuhi kebutuhannya.

        Belum lagi ada isu lahan kota terbatas, pasti yang bisa melakukan urban farming ini yang punya kelebihan lahan atau tahu teknologi/pengetahuan alternatif lain utk bertani di lahan sempit. Hanya masyarakat kota kelas tertentu aja yang mulai aware sama pangan sehat, ditambah skrg lagi cukup hits juga kan soal sustainable and healthy lifestyle

      • rahmade
        Participant
        Post count: 17

        Dari Fadhli AKATIGA ;

        Menentukan pengaruh tentunya harus dilihat dulu struktur kelasnya, pelajaran dari 1000kebun beberapa orang yang pernah ditemui dan berdiskusi, kelompok menengah atas yang menanam ada kebutuhan memenuhi kebutuhan pangan (penunjang) sendiri yang sehat, higienis dll, memastikan apa yang dia makan dia tahu sumbernya darimana, kelas2 menengah urban mulai bergeser ke hal ini konsumsi sehat dll, kelas bawah bisa untuk memenuhi kebutuhan sendiri dalam rangka mengurangi pengeluaran

      • rahmade
        Participant
        Post count: 17

        Dari Nofa AKATIGA ;

        Sejauh pengamatanku, dan nanya beberapa temen yang mulai bertanam (dan juga kadang suka liat IG live gitu), rata2 yang menentukan keputusan berkebun di kota itu sebagaian bersar karena ingin mencukupi kebutuhan sendiri. Memang bukan memenuhi kebutuhan sendiri dari mulai bahan pokok sampe pelengkapnya ya, tp ya beberapa tanaman yg memungkinkan ditanam di perkotaan dengan luasan yang mereka punya (seadanya). Artinya dia udh sadar atau dia udh punya pengetahuan ttg pentingnya bertanam sendiri karena lebih sehat dan dia tau makanan dia tidak berkontribusi ke carbon footprint.

        Bisa juga karena terdesak kurangnya pendapatan yang layak, tapi ini masih harus didorong oleh pihak eksternal, katakanlah pemerintah atau komunitas/lembaga pemberdayaan yang memberikan pemahaman dulu ke mereka kalau bertani di kota itu bisa dan kalau rutin bisa jadi lebih murah dan mungkin bisa jadi peluang usaha (bikin urban farming skala nya yg lumayan, misal se kecamatan bareng2 bikin)

        • This reply was modified 2 months, 4 weeks ago by rahmade.
    • yerry
      Participant
      Post count: 5

      Tapi ini bersifat jangka panjang ya. Apa bisa kampanye mulai menanam ditebar lagi? Saya baca di Amerika, masyarakat mulai membeli anak ayam dan kegiatan beternak di rumah digalakkan kembali. Apa ini bisa dijadikan sesuatu yang bisa diserukan ke khalayak?

      salam

      • rahmade
        Participant
        Post count: 17

        Dari Galih 1000Kebun :
        “Bisa banget tapi harus tepat sasaran ke masyarakat yang “membutuhkan” untuk masyarakat yang masih mampu beli biasanya bertanam hanya untuk hobi karena masih memiliki pendapatan yang layak.”

    • WahyubinataraF
      Participant
      Post count: 1

      Sebelum dan sesudah situasi Covid-19 ini, masalah ketimpangan penguasaan tanah sudah sangat mengkhawatirkan.. 1% populasi kuasai 68% tanah (data KPA); belum lagi berbagai konflik tanah antara masyarakat dan perusahaan yang selalu dimenangkan perusahaan dengan represif, ini bikin sektor pertanian ga seksi buat generasi muda. Sudah begitu, umur petani juga tua-tua, dan mereka bertani sampai usia senja bukan karena apa-apa selain untuk investasi ke pendidikan demi perbaikan penghidupan generasi muda yang jadi subjek pembicaraan diskusi ini. Sementara, pendidikan di rural tidak menyelesaikan permasalahan kehidupan secara kontekstual (khususnya masalah-masalah spesifik masyarakat agraris) dan hanya beroriantasi mencetak tenaga kerja. Ada juga dimensi stigma atas profesi petani sebagai profesi rendahan (khususnya di rural). Disclaimer: Ini semua opini yah, walau berbasis fakta.. sorry kalau ga sampai solusi pula membahasnya.. hehehe..

      • rahmade
        Participant
        Post count: 17

        Benar sekali mas, terima kasih untuk informasi yang diberikan. Memang itulah yang menjadi masalah regenerasi pertanian di Indonesia. Dari kondisi-kondisi itulah yang kemudian menjadi landasan kami dalam mengembangkan program Ayo Jadi Petani Muda.

        Dalam program ini, bersama teman-teman mitra, kami mencoba cara-cara untuk alternatif upaya akses lahan bagi orang muda, pembelajaran pertanian yang inovatif, dan mencari jalan pengembangan usaha tani yang lebih menguntungkan.

Viewing 6 reply threads
  • You must be logged in to reply to this topic.