Pariwisata Tak Inklusi, Difabel Tanpa Rekreasi

Yuk gabung diskusikan “Pariwisata Tak Inklusi, Difabel Tanpa Rekreasi”

Sabtu, 29 Februari 2020
Pukul: 15.00 – 18.00 WITA
Tempat: Beranda Rumah PerDIK Sulsel

Perumahan Graha Aliah
Jl. Syekh Yusuf
Blok E3a, Katangka, Gowa.

Pemantik diskusi
1. Kerstin Beise (Konsultan Accessible Indonesia)
2. H. Sophian Hamdi (Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Gowa)
3. Filemon Alosyus Limba (Difabel Traveler, Gerkatin Makassar)

Moderator Ishak Salim

Konfirmasi kehadiran:
+62 852-5623-3366

Pengantar:

Perkembangan industri pariwisata telah mengalami pertumbuhan yang signifikan. Berdasarkan data World Travel & Tourism Council (WTTC) menempatkan industri pariwisata Indonesia berada di urutan pertama se-Asia Tenggara dalam hal jumlah wisatawan.

Untuk itu, berbagai fasilitas dibangun. Destinasi wisata semakin bervariasi dan berkembang dengan cepat. Pertumbuhan hotel dan restoran pun mengalami kenaikan yang pesat.

Sayangnya, kemajuan pariwisata belum ramah, kurang peduli bahkan belum memberikan rasa nyaman bagi difabel atau penyandang disabilitas.

Difabel di Indonesia masih merasakan susahnya menikmati fasilitas obyek wisata, hotel, dan akses travelling. Padahal, difabel juga memiliki hak yang sama untuk bisa berwisata seperti orang kebanyakan.

Hasil survei laman perjalanan wisata (2015) menyebutkan di dunia internasional ada kode etik wisata, salah satunya harus menghormati semua konsumennya, termasuk untuk difabel. Beberapa negara sudah menerapkannya.

Sebanyak 55% hotel di Uni Emirat Arab sangat ramah dan peduli bagi turis difabel, sementara Amerika Serikat mencapai 77 persen. Dan 90 persen hotel di Abu Dhabi memiliki fasilitas bagi difabel.

Destinasi wisata ziarah juga cenderung memiliki tingkat aksesibilitas lebih tinggi. Di Fatima, tempat tujuan wisata religi umat Katolik di kota Portugal, Spanyol, lebih dari 70 persen hotel memiliki fasilitas untuk para tamu dengan kebutuhan khusus. Begitu juga di kota Lourdes, Perancis.

Anehnya wilayah Asia, termasuk Indonesia sangat disayangkan tidak ada satu pun negara di benua ini yang berhasil masuk peringkat 10 besar. Singapura merupakan yang tertinggi di antara negara Asia lainnya, yaitu di peringkat ke-18. Sebanyak 40% dari hotel memiliki fasilitas untuk difabel.

Bahkan, lima negara dengan persentase 10 terbawah berasal dari benua Asia, yakni Vietnam (9 persen), Nepal (8 persen), Thailand (8 persen), Kamboja (8 persen), dan Laos (1 persen) kemudian Indonesia tidak ada informasi yang jelas dalam menyediakan fasilitas bagi difabel.

Untuk itulah PerDIK alias Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan, mengganggap penting untuk mendiskusikan isu ini.

Apakah di Indonesia Khususnya Sulawesi Selatan sudah menyediakan akomodasi layak bagi difabel?

Lalu bagaimana pula tanggapan wisatawan difabel?

Sudahkah mereka memperoleh pelayanan yang ramah dalam aktivitas wisata yang mereka lakukan?

 

Date

Feb 29 2020

Time

WITA
15:00 - 18:00
QR Code